Menurut dalang Ki Manteb Soedarsono,dalam ajaran Islam Jawa kuno terdapat lima aturan atau pakem bila ingin selamat dari bahaya. Kelima pakem ini adalah sembah cipto, raga, jiwo, roso, dan sukmo.
- Sembah cipto = syahadat Islam
- Sembah raga = shalat
- Sembaf jiwo = kalbu
- Sembah roso = bersedekah
- Sembah sukmo = berserah diri kepada Allah
Selain dikemas dalam paugeran atau aturan tak tertulis, nilai - nilai syiar Wali Songo juga berkembang dalam tembang - tembang Jawa. Misalnya,dalam syair lagu Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick.
Menyimpan pesan spiritual dalam sebuah simbol juga menjadi salah satu ciri spiritual masyarakat Jawa. Contohnya simbol di Kayon yang kerap dipakai dalam wayang kulit. "Kayon itu kayun, kayun itu karep, karep artinya hidup. Sementara hidup itu datangnya dari Allah, " kata Ki Manteb.
Ada pula simbol tumpengan. Menyambut Ramadhan, masyarakat lereng Gunung Kawu, Jawa Tengah kerap membuat nasi tumpeng. Hal ini untuk memulai ritual membersihkan diri di sumber mata air di gunung itu. Tumpengan ini adalah simbol yang sangat dalam pada kehidupan masyarakat tresebut. Pada ritual ini, nasi tumpeng dibawa bersama kirab warga untuk didekatkan dengan sumber mata air. Ritual kemudian diiringi lantunan bunyi - bunyian lesung sebagai bentuk ungkapan rasa suka cita datangnya bulan puasa.
Tak hanya itu, berbagai acara kesenian tradisional juga digelar masyarakat setempat. Diantaranya ialah kuda lumping. Namun, acara ini murni digelar untuk hiburan dan jauh dari magis.
# Sumber : diolah dari berbagai sumber


Tidak ada komentar:
Posting Komentar