Minggu, 29 Desember 2013

Cara Pedagang Bakso Antisipasi Kenaikan Harga Daging


JAKARTA - Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apsomi) mengaku mencatatkan kerugian penurunan keuntungan sebesar 50 persen tiap hari akibat kenaikan harga daging.

Saat ini, padagang bakso meraih keuntungan hanya Rp400 ribu per hari, para pedagang harus rela tergerus 50 persen, lantaran tingginya harga daging sapi yang notabene sebagai bahan baku membuat bakso.

Namun, Ketua Umum Apmiso Trisetyo Budiman mengatakan telah memberikan solusi atau ide untuk para pedagang bakso untuk tetap meraih keuntungan di saat harga daging sapi tetap tinggi.

"Salah satu tugas Apmiso sosialisasi kepada temen-temen dengan adaya daging tetelan sangat membantu keuntungan mereka," ujar Trisetyo usai sambutan acara Festival Bakso Gratis di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (29/12/2013).

Tidak hanya dengan tetelan, Trisetyo juga menuturkan tidak hanya mencampur daging sapi segar dengan daging tetelan sapi. Para pedangan yang tergabung dalam Apmiso pun bisa melakukan pencampuran antara daging sapi segar dengan daging sapi impor jenis CL85.

"Salah satu yang kami lakukan untuk daging CL85 itu dengan berbagai proses dan kesulitan, 50 persen daging segar dan CL85 yang diimpor," pungkasnya. (wdi)



Batam Akan Pasok Listrik Ke Pulau Bintan


BATAM - Selain memenuhi pasokan listrik di Pulau Batam, Bright PLN Batam juga berencana untuk mengirim listrik ke pulau tetangga, yakni Pulau Bintan. Interkoneksi pulau dengan daya 150 kilovolt (kv) ini dilakukan guna mengurangi pemakaian diesel dan menekan biaya pokok produksi PLN di Pulau Bintan.

Pembangunan interkoneksi Batam-Bintan ini rencananya akan dilakukan pada Juni 2014 sampai dengan awal 2015. "Nanti (listrik disalurkan) pakai kabel (bawah) laut dan saluran udara," ujar Direktur Operasi Bright PLN Batam, M Tagor EB Sidjabat, Minggu (29/12/2013).

Sebelumnya, anak perusahaan PLN ini sudah memasok listrik ke pulau tetangga lainnya, yaitu Pulau Belakang Padang mulai 24 Juni 2013. Dengan daya 20 kv, listrik didistribusikan melalui kabel bawah laut sepanjang 4,7 km.

Bright PLN Batam pun berencana menambah kapasitas pembangkit, salah satunya dengan membangun PLTGU Tanjung Uncang yang akan beroperasi mulai akhir tahun 2014.

Pasokan gas untuk dikelola PLTGU ini didapat dari Natuna, sehingga nantinya diharapkan Batam tidak hanya bergantung pada satu sumber gas saja, yakni dari Sumatera Selatan. (wdi)

Pengaruh Kelas Sosial dan Status


1.     Pengertian Jenjang Sosial
Kelas sosial didefinisikan sebagai suatu strata (lapisan) orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian kesatuan status sosial. Definisi ini memberitahukan bahwa dalam masyarakat terdapat orang-orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama memiliki kedudukan social yang kurang lebih sama. Mereka yang memiliki kedudukan kurang lebih sama akan berada pada suatu lapisan yang kurang lebih sama pula.

Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas secara relatif mempunyai status yang sama, dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kategori kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas sosial tertentu merasa para anggota kelas sosial lainnya mempunyai status yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada mereka. Aspek hierarkis kelas sosial penting bagi para pemasar. Para konsumen membeli berbagai produk tertentu karena produk-produk ini disukai oleh anggota kelas sosial mereka sendiri maupun kelas yang lebih tinggi, dan para konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain karena mereka merasa produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang lebih rendah”.

Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai kategori yang luas berikut ini: ukuran subjektif, ukuran reputasi, dan ukuran objektif dari kelas sosial. Peneliti konsumen telah menemukan bukti bahwa di setiap kelas sosial, ada faktor-faktor gaya hidup tertentu (kepercayaan, sikap, kegiatan, dan perilaku bersama) yang cenderung membedakan anggota setiap kelas dari anggota kelas sosial lainnya.

Para individu dapat berpindah ke atas maupun ke bawah dalam kedudukan kelas sosial dari kedudukan kelas yang disandang oleh orang tua mereka. Yang paling umum dipikirkan oleh orang-orang adalah gerakan naik karena tersedianya pendidikan bebas dan berbagai peluang untuk mengembangkan dan memajukan diri. Dengan mengenal bahwa para individu sering menginginkan gaya hidup dan barang-barang yang dinikmati para anggota kelas sosial yang lebih tinggi maka para pemasar sering memasukkan simbol-simbol keanggotaan kelas yang lebih tinggi, baik sebagai produk maupun sebagai hiasan dalam iklan yang ditargetkan pada audiens kelas sosial yang lebih rendah.


2.     Faktor Penentu Kelas Sosial
Apakah yang menyebabkan seseorang tergolong ke dalam suatu kelas sosial tertentu? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangat beragam, karena strata sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat itu sendiri atau terjadi dengan sengaja disusun untuk mengejar tujuan­-tujuan atau kepentingan-kepentingan bersama. Secara ideal semua manusia pada dasarnya sederajat. Namun secara realitas, disadari ataupun tidak ada orang-orang yang dipandang tinggi kedudukannya dan ada pula yang dipandang rendah kedudukannya. Dalam istilah sosiologi kedudukan seseorang dalam masyarakat disebut status atau kedudukan sosial (posisi seseorang dalam suatu pola hubungan sosial yang tertentu). Status merupakan unsur utama pembentukan strata sosial, karena status mengandung aspek struktural dan aspek fungsional. Aspek struktural adalah aspek yang menunjukkan adanya kedudukan – tinggi dan rendah dalam hubungan antar status. Aspek fungsional, yaitu aspek yang menunjukkan adanya hak-hak dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh penyandang status.

Talcott Persons, menyebutkan ada lima menentukan tinggi rendahnya status seseorang, yaitu:
·        Kriteria kelahiran (ras, kebangsawanan, jenis kelamin)
·        Kualitas atau mutu pribadi (umur, kearifan atau kebijaksanaan)
·        Prestasi (kesuksesan usaha, pangkat)
·        Pemilikan atau kekayaan (kekayaan harta benda)
·        Otoritas (kekuasaan dan wewenang: kemampuan-untuk menguasai/ mempengaruhi orang lain sehingga orang itu mau bertindak sesuai dengan yang diinginkan tanpa perlawanan)
Beberapa indikator lain yang berpengaruh terhadap pembentukan kelas sosial, yaitu:
a.      Kekayaan
Untuk memahami peran uang dalam menentukan strata sosial/kelas sosial, kita harus menyadari bahwa pada dasamya kelas sosial merupakan suatu cara hidup. Artinya bahwa pada kelas-kelas sosial tertentu, memiliki cara hidup atau pola hidup tertentu pula, dan untuk menopang cara hidup tersebut diperlukan biaya dalam hal ini uang memiliki peran untuk menopang cara hidup kelas sosial tertentu.
Sebagai contoh: Dalam kelas sosial atas tentunya diperlukan banyak sekali uang untuk dapat hidup menurut tata cara kelas sosial tersebut. Namun demikian, jumlah uang sebanyak apa pun tidak menjamin segera mendapatkan status kelas sosial atas. “Orang Kaya Baru” (OKB) mungkin mempunyai banyak uang, tetapi mereka tidak otomatis memiliki atau mencerminkan cara hidup orang kelas sosial atas. OKB yang tidak dilahirkan dan disosiaiisasikan dalam sub-kultur kelas sosial atas, maka dapat dipastikan bahwa sekali-sekali ia akan melakukan kekeliruan, dan kekeliruan itu akan menyingkap sikap kemampuannya yang asli. Untuk memasuki suatu status baru, maka dituntut untuk memiliki sikap, perasaan, dan reaksi yang merupakan kebiasaan orang status yang akan dituju, dan hal ini diperlukan waktu yang tidak singkat.
Uang juga memiliki makna halus lainnya. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan profesional lebih memiliki prestise daripada penghasilan yang berujud upah dari pekerjaan kasar. Uang yang diperoleh dari pekerjaan halal lebih memiliki prestise daripada uang hasil perjudian atau korupsi. Dengan demikian, sumber dan jenis penghasilan seseorang memberi gambaran tentang latar belakang keluarga dan kemungkinan cara hidupnya. Jadi, uang memang merupakan determinan kelas sosiai yang penting; hal tersebut sebagian disebabkan oleh perannya dalam memberikan gambaran tentang latar belakang keluarga dan cara hidup seseorang.

b.      Pekerjaan
Dengan semakin beragamnya pekerjaan yang terspesialisasi kedalam jenis-jenis pekerjaan tertentu, kita secara sadar atau tidak bahwa beberapa jenis pekerjaan tertentu lebih terhormat daripada jenis pekerjaan lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada masyarakat Cina klasik, dimana mereka lebih menghormati ilmuwan dan memandang rendah serdadu; Sedangkan orang-orang Nazi Jerman bersikap sebaliknya.

Mengapa suatu jenis pekerjaan harus memiliki prestise yang lebih tinggi daripada jenis pekerjaan lainnya. Hal ini merupakan masalah yang sudah lama menarik perhatian para ahli ilmu sosial. Jenis-jenis pekerjaan yang berprestise tinggi pada umumnya memberi penghasilan yang lebih tinggi; meskipun demikian terdapat banyak pengecualian (?). Jenis-jenis pekerjaan yang berprestise tinggi pada umumnya memerlukan pendidikan tinggi, meskipun korelasinya masih jauh dari sempuma. Demikian halnya pentingnya peran suatu jenis pekerjaan bukanlah kriteria yang memuaskan sebagai faktor determinan strata sosial, Karena bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa pekerjaan seorang petani atau polisi kurang berharga bagi masyarakat daripada pekerjaan seorang penasihat hukum atau ahli ekonomi? Sebenarnya, pemungut sampah yang jenjang prestisenya rendah itulah yang mungkin merupakan pekerja yang memiliki peran penting dari semua pekerja dalam peradaban kota! Pekerjaan merupakan aspek strata sosial yang penting, karena begitu banyak segi kehidupan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Apabila kita mengetahui jenis pekerjaan seseorang, maka kita bisa menduga tinggi rendahnya pendidikan, standar hidup, pertemanannya, jam kerja, dan kebiasaan sehari-hari keluarga orang tersebut. Kita bahkan bisa menduga selera bacaan, selera rekreasi, standar moral, dan bahkan orientasi keagamaannya. Dengan kata lain, setiap jenis pekerjaan merupakan bagian dari cara hidup yang sangat berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya.

Keseluruhan cara hidup seseoranglah yang pada akhimya menentukan pada strata sosial mana orang itu digolongkan. Pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik untuk mengetahui cara hidup seseorang. Oleh karena itu, pekerjaan-pun merupakan indikator terbaik untuk mengetahui strata sosial seseorang.


c.      Pendidikan
Kelas sosial dan pendidikan saling mempengaruhi sekurang-­kurangnya dalam dua hal. Pertama, pendidikan yang tinggi memerlukan uang dan motivasi. Kedua, jenis dan tinggi rendahnya pendidikan mempengaruhi jenjang kelas sosia. Pendidikan tidak hanya sekedar memberikan ketrampilan kerja, tetapi juga melahirkan perubahan mental, selera, minat, tujuan, etiket, cara berbicara – perubahan dalam keseluruhan cara hidup seseorang.

Dalam beberapa hal, pendidikan malah lebih penting daripada pekerjaan. De Fronzo (1973) menemukan bahwa dalam segi sikap pribadi dan perilaku sosial para pekerja kasar sangat berbeda dengan para karyawan kantor. Namun demikian, perbedaan itu sebagian besar tidak tampak bilamana tingkat pendidikan mereka sebanding.


3.      Pengukuran Kelas Sosial
Pembagian Kelas Sosial terdiri atas 3 bagian yaitu:
a.      Berdasarkan Status Ekonomi
1)     Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan:
o   Golongan sangat kaya
o   Golongan kaya
o   Golongan miskin
*Ket :
Golongan pertama : merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.
Golongan kedua : merupakan golongan yang cukup banyak terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dsbnya.
Golongan ketiga : merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

2)     Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:
§  Golongan kapitalis atau borjuis : adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.
§  Golongan menengah : terdiri dari para pegawai pemerintah.
§  Golongan proletar : adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi. Termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.
Menurut Karl Marx golongan menengah cenderung dimasukkan ke golongan kapatalis karena dalam kenyataannya golongan ini adalah pembela setia kaum kapitalis. Dengan demikian, dalam kenyataannya hanya terdapat dua golongan masyarakat, yakni golongan kapitalis atau borjuis dan golongan proletar.

3)     Pada masyarakat Amerika Serikat, pelapisan masyarakat dibagi menjadi enam kelas, yakni:
·        Kelas sosial atas lapisan atas (Upper-upper class)
·        Kelas sosial atas lapisan bawah (Lower-upper class)
·        Kelas sosial menengah lapisan atas (Upper-middle class)
·        Kelas sosial menengah lapisan bawah (Lower-middle class)
·        Kelas sosial bawah lapisan atas (Upper lower class)
·        Kelas sosial lapisan sosial bawah-lapisan bawah (Lower-lower class)

4)     Dalam masyarakat Eropa dikenal 5 kelas, yakni:
·        Kelas puncak (top class)
·        Kelas menengah berpendidikan (academic middle class)
·        Kelas menengah ekonomi (economic middle class)
·        Kelas pekerja (workmen dan Formensclass)
·        Kelas bawah (underdog class)

b.      Berdasarkan Status Sosial
Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosialnya. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang anggota masyarakat dipandang rendah karena memiliki status sosial yang rendah.
*Contoh : Pada masyarakat Bali, masyarakatnya dibagi dalam empat kasta, yakni Brahmana, Satria, Waisya dan Sudra. Ketiga kasta pertama disebut Triwangsa. Kasta keempat disebut Jaba. Sebagai tanda pengenalannya dapat kita temukan dari gelar seseorang. Gelar Ida Bagus dipakai oleh kasta Brahmana, gelar cokorda, Dewa, Ngakan dipakai oleh kasta Satria. Gelar Bagus, I Gusti dan Gusti dipakai oleh kasta Waisya, sedangkan gelar Pande, Khon, Pasek dipakai oleh kasta Sudra.

c.      Berdasarkan Status Politik
Secara politik, kelas sosial didasarkan pada wewenang dan kekuasaan. Seseorang yang mempunyai wewenang atau kuasa umumnya berada dilapisan tinggi, sedangkan yang tidak punya wewenang berada dilapisan bawah. Kelompok kelas sosial atas antara lain:
- Pejabat eksekutif, tingkat pusat maupun desa.
- Pejabat legislatif, dan
- Pejabat yudikatif.

Pembagian kelas-kelas sosial dapat kita lihat dengan jelas pada hirarki militer
                                                         i.          Kelas Sosial Atas (perwira) Dari pangkat Kapten hingga Jendral.
                                                        ii.          Kelas sosial menengah (Bintara) Dari pangkat Sersan dua hingga Sersan mayor.
                                                      iii.          Kelas sosial bawah (Tamtama) Dari pangkat Prajurit hingga Kopral kepala.

4.     Apakah Kelas Sosial Berubah
Kelas sosial akan pasti berubah, sama halnya seperti roda kehidupan yang selalu berputar. Kadang seseorang berada dalam status sosial yang tinggi atau berada saat mapan atau di hormati, tetapi terkadang lambat laun akan berada di posisi bawah, yaitu ketika mereka tidak lagi berjaya, kaya, atau di hormati seperti sebelum-sebelumnya. Ketika kelas sosial berubah perubahan itu juga akan mempengaruhi perilaku dan selera konsumen terhadap suatu barang. Misalnya seorang yang biasa mengkonsumsi nasi dari beras yang mempunyai kualitas yang rendah, tetapi apabila ia menjadi kaya atau memperoleh rezeki yang berlebih maka ia akan merubah beras yang di konsumsi dari yang berkualitas rendah ke kualitas yang lebih tinggi. Dan ini juga bisa mempengaruhi berbagai permintaan produksi suatu barang maupun jasa.


5.     Pemasaran Pada Segmen Pasar Berdasarkan Kelas Sosial
Pemasaran pada segmen pasar berdasarkan kelas sosial berbeda-beda sesuai dengan kelas sosial yang ingin dituju. Bisa dilihat apabila ingin memasarkan suatu produk yang mempunyai kelas sosial yang tinggi biasanya menggunakan iklan yang premium atau bisa di bilang lebih eksklusif karena dapat diketahui bahwa orang – orang yang berada di kelas sosial atau memiliki status sosial yang tertinggi, mereka lebih memilih produk yang higienis, terbaru, bermerk, dan kualitas yang sangat bagus. Berbeda apabila pemasaran dilakukan untuk orang – orang yang berada pada kelas sosial terendah. Penggunaan iklan pun kurang digencarkan dan biasanya malah lebih menggunakan promosi yang lebih kuat, karena kelas sosial yang rendah lebih banyak mementingkan sebuah kuantitas suatu produk dengan harga yang murah. Jadi berbeda sekali pemasaran yang dilakukan apabila melihat dari posisi kelas sosial yang ada.



Pengaruh Situasi

Tipe-Tipe Situasi Konsumen
Faktor situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu. Kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen (Asseal, 1998). Sedangkan, menurut Belik (1975), mendefinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang (intra individu) dan stimulasi (alternatif pilihan) serta memiliki bukti dan pengaruh sistematis pada perilaku saat itu. Penelitian telah menemukan bahwa faktor situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan mengubah kemungkinan pemilihan berbagai alternatif.


      A.     PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL
Manusia dilahirkan kedunia seorang diri, tetapi kemudian hidup berkelompok dengan keluarganya. Seperti kita ketahui, manusia pertama adam telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama hawa. Mereka lalu beranak pinak, terbentuklah keluarga, kelompok social, kelompok kekerabatan, masyarakat, bangsa, dan Negara.

1)     Proses Pembentukan Kelompok Sosial
Didalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang paling penting ialah reaksi yang timbul akibat hubungan-hubungan sosial tersebut. Reaksi yang timbul itu, menyebabkan tindakan dan tanggapan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau seseorang mempunyai teman, dia memerlukan reaksi, entah yang berwujud pujian atau celaan, yang mendorong munculnya tindakan-tindakan selanjutnya. Sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
·        Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain dalam masyarakat
·        Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

2)     Persyaratan atau Faktor-Faktor Pembentukan Kelompok Sosial. Terbentuknya kelompok sosial memerlukan persyaratan sebagai berikut:
·        Setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa dirinya merupakan anggota atau bagian dari kelompok sosialnya.
·        Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya.
·        Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan diantara mereka bertambah erat.
·        Kelompok itu berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku yang khas.
·        Kelompok itu bersistem dan berproses terus menerus.

      B.     PERKEMBANGAN KELOMPOK SOSIAL
Kelompok sosial bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok social selalu mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami perubahan yang mencolok. Namun, adapula kelompok sosial yang mengalami perubahan yang cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar.

1)    Perubahan Kelompok Sosial
Kelompok sosial umumnya mengalami perubahan akibat proses revolusi karena pengaruh dari luar. Keadaan tidak stabil pada kelompok sosial dapat terjadi sebagai akibat konflik antar kelompok karena kurangnya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam kelompok tersebut. Ada golongan dalam kelompok sosial yang ingin merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan lain, atau ada kepentingan tidak seimbang, sehingga timbul ketidakadilan atau perbedaan paham atau pandangan tentang cara mencapai tujuan kelompok. Kesemuanya itu mengakibatkan terjadinya perpecahan di dalam kelompok sosial, sehingga timbul perubahan struktur kelompok sosial. Timbulnya struktur kelompok sosial yang baru, pada akhirnya bertujuan mencapai keadaan yang seimbang dan stabil.

Perubahan struktur kelompok sosial dapat pula terjadi karena sebab-sebab dari luar. Ancaman dari luar misalnya, seringkali menjadi faktor yang mendorong terjadinya perubahan struktur kelompok sosial. Situasi yang membahayakan yang berasal dari luar akan memperkuat rasa persatuan dan mengurangi keinginan-keinginan untuk mementingkan diri sendiri dari anggota-anggota kelompok sosial tersebut. Sebab lain, yaitu pergantian pimpinan, staf, atau anggota kelompok sosial yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menurut Max Weber, dalam masyarakat multikultural ada beberapa macam kelompok sosial. Kelompok sosial yang satu berbeda dari kelompok sosial yang lain, walaupun mereka termasuk dalam suatu masyarakat yang sama. Max weber mengemukakan bahwa kelompok masyarakat majemuk berkaitan dengan tatanan yang mengikat dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Masyarakat Indonesia tergolong masyarakat multikultural, yaitu masyarakat yang beragam etnis/suku bangsa, ras, agama, bahasa, adat istiadat, profesi, golongan politik dsb. Keberagaman suku bangsa dan kebudayaan tersebut, tentu saja berpengaruh terhadap sistem dan struktur sosial. Karena itu, dalam masyarakat Indonesia terdapat bermacam-macam kelompok sosial berdasarkan kriteria tertentu, seperti kelompok sosial yang terbentuk karena kepentingan etnis atau suku bangsa, kelompok sosial kerena kepentingan agama, kepentingan profesi dsb. Perkembangan kelompok sosial itu terjadi melalui 2 proses, yaitu proses yang bersifat alami dan disengaja.

2)     Ciri-Ciri Kelompok Sosial
Menurut Sherif, kelompok social memiliki ciri-ciri berikut ini :
§  Terdapat dorongan atau motif yang sama pada setiap anggota kelompok yang menyebabkan terjadinya interaksi ke arah tujuan yang sama.
§  Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan dari individu-individu serta reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat didalamnya.
§  Pembentukan penegasan struktur kelompok yang jelas dan terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarki yang lambat laun berkembang dengan sendirinya dalam pencapaian tujuannya.
§  Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma sebagai pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.


      C.      EKSPERIMEN DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Floyd D.Ruch dalam bukunya yang berjudul “Psychology and Life”, menegaskan bahwa dinamika kelompok (group dynamics) merupakan hasil interaksi yang dinamis diantara individu-individu dalam situasi sosial.

a.      Eksperimen Pertama
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dinamika kelompok, dibawah ini akan diuraikan hasil penelitian Sherip tentang interaksi dalam kelompok dan interaksi antar kelompok.

b.      Hipotesis Eksperimen
Eksperimen yang bertujuan menyelidiki 2 hipotesis berikut ini.
·        Apabila individu-individu manusia yang tidak berhubungan antara satu dengan yang lain dikumpulkan pada suatu tempat untuk berinteraksi sosial dalam kegiatan-kegiatan yang menuju ke tujuan yang sama, maka akan terbentuk kelompok sosial dengan struktur nya yang khas dimana akan terdapat kedudukan sosial yang hierarkis dan peran-peran sosial tiap-tiap anggota kelompok yang saling berinteraksi social.
·        Apabila dua kelompok telah membuat struktur in-groupnya masing-masing, maka akan terbentuk sikap yang negatif terhadap kelompok yang menjadi out-groupnya dan akan terbentuk streotip prasangka negatif terhadap out-groupnya.

Kedua hipotesis itu diselidiki kebenarannya oleh Sherif dengan mengadakan eksperimen berikut ini. Eksperimen dilakukan terhadap 24 orang anak lelaki yang berumur 12 tahun. Anak itu tidak saling mengenal dan perbedaan sosoal di antara mereka dihilangkan karena perbedaan itu dapat mempengaruhi jalannya eksperimen.


c.      Jalannya eksperimen
Eksperimen direncanakan dalam tiga fase:
Fase Pertama, direncanakan anak-anak mengadakan hubungan persahabatan berdasarkan kegiatan bersama seperti berenang, olah raga, dst. Diharapkan mereka memilih kawannya sendiri, dalam bermain mereka diberi kebebasan memilih kawan sepermainan sendiri. Ini berjalan selama tiga hari.
Fase Kedua, setelah tiga hari anak bergaul dilakukan pemisahan anak-anak dalam dua kelompok. Masing-masing terdiri atas 12 orang. Dari pemisahan itu diharapkan terbentuk struktur sosial sendiri pada masing-masing kelompok sehingga akan terbentuk in-group dan out-group.
Fase Ketiga, setelah terbentuk dua kelompok yang khas direncanakan menimbulkan pergeseran dan konflik sosial diantara keduanya. Diciptakan situasi-situasi yang memudahkan timbulnya saling menghambat antara satu dengan yang lain.

d.      Hasil Eksperimen
Hasil eksperimen diperoleh data-data penelitian sebagai berikut:
Hasil Fase Pertama, seperti yang diharapkan, anak-anak dalam fase pertama segera mengadakan interaksi dan mencari kawan sendiri. Terbentuklah secara bebas kelompok-kelompok persahabatan kecil sebagai hasil dari interaksi timbal-balik kearah tujuan bersama itu.
Hasil Fase Kedua, ternyata persahabatan-persahabatan yang terjadi pada akhir fase pertama (persahabatan berdasarkan interaksi dan pemilihan bebas), setelah dipisahkan dan dimasukkan kedalam kedua kelompok yang lebih besar itu, pada akhir fase kedua tidak ada lagi. Anak-anak sekarang cenderung dengan kawan-kawan kelompok A dan B.
Hasil Fase Ketiga, kesimpulan eksperimen sebagai berikut. Hasil eksperimen membuktikan kebenaran hipotesis kedua yang ingin diselidiki dan keseluruhan eksperimen ini berhasil membuktikan kedua hipotesis, yaitu bahwa dinamika kelompok akan menghasilkan struktur dan norma kelompok serta perasaan in-group yang khas, dan bahwa apabila terjadi pergeseran antara dua kelompok yang sudah mempunyai perasaan in-group masing-masing maka akan terbentuk sikap negative dan streotop terhadap out-groupnya masing-masing. Telah disimpulkan bahwa untuk mendamaikan dua kelompok yang berkonflik terdapat cara yang efektif:
ü  Berusaha agar beberapa anggota yang mewakili kedua kelompok itu disatukan dan dipertandingkan dengan suatu kelompok di luar kedua kelompok.
ü  Berusaha anggota kelompok itu sering bekerja sama.


      D.     PENGARUH SITUASI TAK TERDUGA         
Bagaimana seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian, yang tadinya dia tidak mau Membeli barang  tapi karena suatu hal jadi membeli barang tersebut. Contoh : Saat jalan ke pusat perbelanjaan, ayah melihat ingin membeli baju baru padahal awalnya mereka ke pusat perbelanjaan hanya untuk belanja bulanan.