Senin, 28 November 2011

Tradisi Membuang Sampah Sembarangan

Tradisi adalah sebuah kebiasaaan turun menurun peninggalan leluhur kita. Beraneka ragam tradisi di Indonesia yang saat ini masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Tradisi tersebut sengaja dilestarikan agar para penerus tetap mengenal tentang adat dan kebiasaan meskipun setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda.

Dari tradisi tersebut, kita bangsa Indonesia patut berbangga dengan keanekaragaman tradisi yang berbeda-beda. Namun ada hal yang perlu kita buang dalam sebuah tradisi atau kebiasan buruk yang dapat merugikan bangsa yaitu membuang sampah sembarangan. Memang terlihat melenceng dari tradisi yang sering kita lihat atau pelajari namun jika ditilik dari kebiasaan kebanyakan masyarakat kita yang sudah terbiasa membuang sampah sembarangan, mereka mengatakan kalau membuang sampah di sembarang tempat sudahlah menjadi tradisi atau kebiasaan turun menurun sehingga susah untuk dihilangkan.

Sejak kecil, kita telah diajarkan kepada orang tua kita untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Ketika duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, aturan itu diajarkan dan diterapkan bahkan anak-anak balita yang belum masuk sekolah Taman Kanak-Kanak pun sudah diajari oleh orang tua kita. Namun  seiring bertambahnya usia, larangan membuang sampah di sembarang tempat semakin memudar dan menghilang. Keadaan ini makin diperparah dengan tingkah laku seseorang yang dulu selalu menggembar-gemborkan tentang larangan itu. Namun beliau sang pahlawan, tidak sungkan melempar sampah begitu saja tanpa rasa bersalah bahkan malu terhadap tingkahnya yang telah melanggar larangan. Padahal jika kita kepergok telah membuang sampah sembarangan, beliau akan marah dan tentunya menghukum kita tanpa kompromi. Namun jika kita yang memergoki dan mencoba memberitahu, beliau marah dan mengatai kita yang lebih muda, tidak mengetahui apa-apa. Tentunya kita pernah melihat dan mengalami peristiwa itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa membuang sampah sembarangan memang sudah mengakar pada kita baik dari kalangan bawah yang tidak berpendidikan sampai kalangan elit yang mempunyai derajat dan martabat lebih tinggi dari pada seorang gelandangan yang berpendidikan dan berperasaan. Bagi saya orang yang membuang sampah sembarangn sebenarnya tidak berbeda, entah mereka dari kalangan rendahan sampai kalangan elit sekalipun. Mereka sama-sama orang rendahan yang tidak punya toleransi terhadap lingkungan.

 
Mari kita lihat di sekeliling kita. Banyak sampah berserakan di mana-mana. Di rumah, di sungai dan di jalan yang sering kita lewati hingga merusak pemandangan mata. Sampah ibarat pemandangan biasa saja bagi kita juga mereka yang membuang sampah sembarang. Mereka tidak sungkan untuk membuangnya begitu saja. Sebagai contoh, di jalan raya. Pada suatu hari ada sebuah mobil sedan keluaran terbaru meluncur perlahan dengan mulus. Kaca jendela dibuka sedikit kemudian keluarlah puntung rokok, botol air mineral kosong, tisu, plastik bungkus makanan kecil dan lain-lain. Tanpa ragu, penghuni mobil mewah tersebut membuangnya di jalan. Sampah sudah hilang dan tidak merusak pemandangan di dalam mobil. Sangat nyaman bagi penghuni mobil tersebut namun, apakah dia tidak berpikir akan merugikan orang lain yang berkendara di belakangnya? Pastilah pengendara sial yang ada di belakangnya akan terkejut sebab tiba-tiba ada benda asing terbang di hadapannya. Kadang kita tidak habis pikir kenapa sampah tadi tidak dimasukkan ke dalam tas plastik baru kemudian dibuang di bak sampah yang telah disediakan? Bukankan di setiap ruas di pinggir jalan telah disediakan tempat pembuangan sampah? Bahkan bak sampah yang tersedia sudah ada jenisnya. Bak sampah untuk sampah organik dan anorganik. Kenapa bak sampah tidak digunakan dengan baik dan selayaknya sebagaimana fungsi bak sampah?

Maka tidak salah jika alam mengamuk akibat ulah manusia yang tidak mempunyai toleransi terhadap lingkungan sehingga di kota besar khususnya Jakarta yang berpenduduk padat terjadi bencana banjir setiap tahunnya. Saat musim penghujan, Jakarta tidak akan luput dari bencana banjir. Dan saat banjir itu terjadi, penduduk yang mengalami musibah tersebut mengatakan kalau bencana banjir sudah tradisi. Sampai kapan bencana banjir akan mentradisi kota Jakarta yang notabene sebagai ibukota Indonesia?

Memang ada beberapa faktor yang sangat berperan sehingga banjir tidak bisa dicegah namun dalam hal ini, saya mengambil salah satu contoh pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya. Contoh yang sering dijumpai adalah banyaknya sampah yang ada di sungai. Sungai bagi masyarakat Jakarta terutama daerah pinggiran sungai yang padat penduduk menjadi alternatif yang sangat praktis bagi orang sekitar sungai untuk membuang sampah. Dan menurut mereka tempat pembuangan sampah paling praktis di adalah di sungai. Sungai yang banyak sampah dapat menyumbat saluran air. Jika sudah tersumbat polusi udara tidak bisa dihindari. Bau busuk menyebar dari sampah-sampah tersebut sehingga dapat menjadi sumber penyakit terlebih sungai tersebut airnya digunakan penduduk sekitar untuk mencuci, mandi dan memasak. Bagaimana masyarakat Indonesia bisa sehat jika mereka tidak menggunakan air bersih untuk kehidupan sehari-hari sebaliknya merekapun sepertinya tidak memperdulikan tentang kebersihan demi kesehatan mereka sendiri. Selain itu, sampah-sampah tersebut dapat merusak pemandangan.

Pada dasarnya, sampah yang sudah tidak digunakan bisa sangat bermanfaat bagi kita jika kita mempunyai kreatifitas. Sudah banyak contoh yang dihasilkan oleh mereka untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Misalnya, sampah organik bisa menjadi pupuk kompos, botol plastik air mineral dan softdrink bisa dibuat sebuah lampu hias, bungkus atau plastik detergen bisa dimanfaatkan untuk membuat tas, payung dan kreatifitas lainnya. Kardus, box kemasan bisa digunakan untuk membuat permainan educatif seperti gedung bertingkat, mobil, ponsel, dll.

Jika kita tidak mempunyai kreatifitas tersebut, kita bisa menggerakkan tetangga sekitar untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut kemudian disalurkan kepada para orang yang ahli memanfaatkannya. Hubungan yang saling menguntungkan bisa terjalin. Para pencari limbah tidak kesusahan mencari limbah dan kita tidak kerepotan membuang sampah. Jika kita bisa memperlakukan lingkungan sebagaimana memperlakukan diri kita, niscaya bencana banjir bisa dihindari, tidak ada bau busuk yang menyengat dan lingkungan menjadi indah atau sedap dipandang mata. Bukankah, kebersihan merupakan sebagaian dari pada iman? Namun apabila masih saja ada orang  tidak perduli, sepertinya pemerintah harus membuat peraturan untuk mendenda bagi mereka yang membuang sampah sembarang. 

Mengapa kita tidak memperlakukan lingkungan sebagaimana kita memperlakukan diri kita? Apakah terlalu sulit untuk mematrikan di otak kita agar tidak membuang sampah sembarangan? Lalu apa gunanya aturan dan larangan juga tempat sampah yang sudah disediakan? Apakah mereka hanya sebuah simbol untuk mempercantik lingkungan? Bagaimana bisa lingkungan menjadi indah jika di sekitarnya banyak sampah berserakan di mana-mana? Mungkin kita perlu belajar dari anak kecil yang masih polos itu.
Jika kita semua sadar akan kebersihan lingkungan, bangsa kita akan menjadi sangat indah. Keindahan tersebut bisa mencerminkan bangsa Indonesia sehingga bisa mempromosikan Indonesia kepada dunia luar yang sering memojokkan negara kita. Jadi masalah sampah merupakan masalah kita semua. Semua masyarakat Indonesia mempunyai tanggung jawab atas permasalahan tersebut. Tidak hanya para petugas kebersihan saja yang bertanggung jawab. Begitu indah jika semua itu terwujud. Tidak ada sampah di sungai yang dapat mengotori dan banjir bisa dicegah seminimal mungkin karena seperti yang kita ketahui, masalah sampah yang dibung sembarangan itu adalah masalah utama penyebab bencana banjir yang sudah mentradisi. Sekarang tergantung diri kita sendiri. Apakah kita akan tetap kekeh menjadi masyarakat bodoh yang tidak luput dari bencana setiap tahunnya? Ataukah kita akan menjadi masyarakat hebat hanya gara-gara sampah yang selalu berada di sekitar kita. Hanya kita yang mampu menjawab semua itu.



#Sumber : http://kem.ami.or.id/2011/09/menghapus-tradisi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar