Tampilkan postingan dengan label Manusia dan Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia dan Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Legenda Gunung Tangkuban Perahu


Di Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.

Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi anjing tersebut.

Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.

Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. dayanng Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.

Segera setelah pesta usai, Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapa akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh.

Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.




#Sumber : www.bapusda.com

Senin, 28 November 2011

Ragam Musik Daerah Nusantara

Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Papua hingga Aceh. Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya. Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya.


Instrumen Musik Perkusi
Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah, Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.


1.    Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam. Gamelan berasal dari daerah Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat yang biasa disebut dengan Degung dan di Bali (Gamelan Bali). Satu perangkat gamelan terdiri dari instrumen saron, demung, gong, kenong, slenthem, bonang dan beberapa instrumen lainnya. Gamelan mempunyai nada pentatonis/pentatonic.

2.   Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau/Sumatera Barat. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, ti, do)

3.   Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa/ Sulawesi Utara. Kolintang mempunyai tangga nada diatonis/diatonic yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis. Bahan dasar untuk membuat kulintang adalah kayu. Cara untuk memainkan alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.

4.      Arumba (alunan rumpun bambu) berasal dari daerah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat dari bhan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pada awalnya arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya menggunakan tangga nada diatonis.

5.    Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan. Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di Jawa barat kendang mempunyai peranan penting dalam tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Bali, DI Yogyakarta, Jawa timur kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi, tari, wayang, ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias.

6.       Rebana adalah jenis gendang yang ukuran bervariasai dari yang kecil hingga besar. Rebana adalah alat musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam. Rebana dapat di jumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.


Instrumen Musik Petik
1.       Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerah Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai Kecapi adalah siter dari daerah Jawa tengah.

2.       Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa tenggara timur (Timor) kecapi ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.

3.       Sampek (sampe/sapek) adalah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang di penuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya menyerupai sampek adalah Hapetan daerah Tapanuli, Jungga dari daerah Sulawesi Selatan.

Instrumen Musik Gesek
Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebab terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa, rebab jenis ini dapat dijumpai di Bali, Jawa dan Kalimantan Selatan.


Instrumen Musik Tiup
  1. Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu. hampir semua daerah di indonesia dapat dijumpai alat musik ini. Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di sumatera utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40-100cm dengan garis tengah 2 cm.
  1. Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat musik tiup yang mempunyai 4-6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni musik tradisi yang menggunakan alat musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Papua.



 # Sumber : http://elang-musik.com/archives/121

    1.   

    Tradisi Syiar Islam di Jawa Tengah

    Tradisi syiar Islam yang dilakukan Wali Songo di Tanah Jawa dapat dibilang melahirkan berbagai nilai dalam prinsip spiritual kebudayaan Jawa. Karena pada masa itu para wali melakukan pendekatan budaya sebagai salah satu cara menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa.

    Menurut dalang Ki Manteb Soedarsono,dalam ajaran Islam Jawa kuno terdapat lima aturan atau pakem bila ingin selamat dari bahaya. Kelima pakem ini adalah sembah cipto, raga, jiwo, roso, dan sukmo.
    • Sembah cipto   = syahadat Islam
    • Sembah raga    = shalat
    • Sembaf jiwo     = kalbu
    • Sembah roso    = bersedekah
    • Sembah sukmo = berserah diri kepada Allah
    Dalam prinsip kosmologi masyarakat Jawa, ketika seseorang ingin menggapai cita - cita, biasanya harus melakukan penyucian diri. Dalam menggapai kesucian itu, orang harus bisa menahan nafsu yang ada di dalam dirinya. Cara yang paling tepat adalah berpuasa.

    Selain dikemas dalam paugeran atau aturan tak tertulis, nilai - nilai syiar Wali Songo juga berkembang dalam tembang - tembang Jawa. Misalnya,dalam syair lagu Tombo Ati yang dipopulerkan oleh Opick.

     Menyimpan pesan spiritual dalam sebuah simbol juga menjadi salah satu ciri spiritual masyarakat Jawa. Contohnya simbol di Kayon yang kerap dipakai dalam wayang kulit. "Kayon itu kayun, kayun itu karep, karep artinya hidup. Sementara hidup itu datangnya dari Allah, " kata Ki Manteb.


    Ada pula simbol tumpengan. Menyambut Ramadhan, masyarakat lereng Gunung Kawu, Jawa Tengah kerap membuat nasi tumpeng. Hal ini untuk memulai ritual membersihkan diri di sumber mata air di gunung itu. Tumpengan ini adalah simbol yang sangat dalam pada kehidupan masyarakat tresebut. Pada ritual ini, nasi tumpeng dibawa bersama kirab warga untuk didekatkan dengan sumber mata air. Ritual kemudian diiringi lantunan bunyi - bunyian lesung sebagai bentuk ungkapan rasa suka cita datangnya bulan puasa.


    Tak hanya itu, berbagai acara kesenian tradisional juga digelar masyarakat setempat. Diantaranya ialah kuda lumping. Namun, acara ini murni digelar untuk hiburan dan jauh dari magis.
                                                                                           


    # Sumber : diolah dari berbagai sumber

    Prosesi Pernikahan Keraton Surakarta

    Pesta pernikahan adat Surakarta yang lengkap memerlukan banyak hal. Dan pesta tersebut tidak dapat terlaksana tanpa bantuan seorang profesional. Orang yang bertanggung jawab mengatur segala persiapan pernikahan adat Jawa tersebut disebut Pemaes, yang mewakili pihak mempelai perempuan. Prosesi pernikahannya terdiri atas :

    A.      Lamaran
    Keluarga calon mempelai pria mendatangi (atau mengirim utusan ke) keluarga calon mempelai perempuan untuk melamar putri keluarga tersebut menjadi istri putra mereka. Pada acara ini, kedua keluarga jika belum saling mengenal dapat lebih jauh mengenal satu sama lain, dan berbincang-bincang mengenai hal-hal yang ringan. Biasanya keluarga dari calon mempelai perempuan yang mempunyai hak menentukan lebih banyak, karena merekalah yang biasanya menentukan jenis pernikahannya. Jika lamaran diterima, maka kedua belah pihak akan mulai mengurus segala persiapan pernikahan.


                     B.   Persiapan Pernikahan
    Setelah lamaran diterima, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah mempersiapkan pesta pernikahan. Pesta pernikahan Jawa adat Surakarta yang lengkap memerlukan banyak hal, dan pesta tersebut tidak dapat terlaksana tanpa bantuan seorang profesional. Orang yang bertanggung jawab mengatur segala persiapan pernikahan adat Jawa tersebut disebut Pemaes yang mewakili mempelai perempuan. Pemaes atau juru rias ini antara lain bertanggung jawab mengatur pakaian dan rias muka yang akan dikenakan oleh kedua pengantin. Selain itu panitia yang terdiri dari sang Pemaes dan kerabat-kerabat dekat pengantin juga mengatur berbagai hal seputar pesta yang akan dilangsungkan:
              - makanan dan minuman yang akan disajikan
       - tari-tarian dan musik (biasanya musik gamelan)
       - pembawa acara (emcee) yang akan diundang
       - acara Siraman
       - acara Ijab dan saksi-saksinya
       - kata sambutan
       - keamanan, transportasi, komunikasi, dokumentasi
       - sewa gedung (akomodasi), perlengkapan pesta, dan lain-lain
       - dekorasi tempat pernikahan


    C.      Hiasan Pernikahan
    Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi janur kuning yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dan daun-daunan:

    §  2 pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimanapun).
    §  Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat.
    §  Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain.
    §  Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.

    Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang bekletepe yaitu hiasan dari daun kelapa untuk mengusir roh-roh jahat dan sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut.


    D.      Upacara Siraman
    Acara yang dilakukan pada siang hari sebelum Ijab atau upacara pernikahan ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau taman keluarga masing-masing dan dilakukan oleh orang tua atau wakil mereka.

    Ada tujuh Pitulungan atau penolong (Pitu artinya tujuh)- biasanya tujuh orang yang dianggap baik atau penting - yang membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari tujuh mata air dan melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dengan membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria dan menuangkannya di dalam rumah pengantin pria.

    Acara siraman diawali oleh orang tua dan ditutup oleh Pemaes yang kemudian dilanjutkan dengan memecahkan kendi.


                      E.      Pecah Kendi
    Kendi yang digunakan untuk siraman diambil. Ibu pengantin perempuan atau Pameas(untuk siraman pengantin pria) atau orang yang terakhir akan memecahkan kendi dan mengatakan: "Wis Pecah Pamore" - artinya sekarang sang pengantin siap untuk menikah.


                      F.      Pangkas Rikma lan Tanam Rikma
    Acara memotong sedikit rambut pengantin perempuan dan potongan rambut tersebut ditanam di rumah belakang.

                     G.      Ngerik
    Setelah acara Siraman, pengantin perempuan duduk di dalam kamarnya. Pemaes lalu mengeringkan rambutnya dan memberi pewangi di rambutnya. Rambutnya lalu disisir dan digelung atau dibentuk konde. Setelah Pameas mengeringkan wajah dan leher sang pengantin, lalu ia mulai mendandani wajah sang pengantin. Lalu sang pengantin akan dipakaikan baju kebaya dan kain batik. Sesajian untuk upacara Ngerik pada dasarnya sama untuk acara siraman. Biasanya supaya lebih mudah sesajian untuk siraman digunakan / dimasukkan ke kamar pengantin dan dipakai untuk sesajian upacara Ngerik.

    H.      Upacara Midodaren
    Acara ini dilakukan pada malam hari sesudah siraman. Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik dewi Widodari. Pengantin perempuan akan tinggal di kamarnya mulai dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh kerabat-kerabatnya yang perempuan. Mereka akan bercakap-cakap dan memberikan nasihat kepada pengantin perempuan.

    Orang tua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab suaminya.

    I.      Peningsetan
    Peningsetan yang berasal dari kata 'singset' atau langsing, memiliki arti untuk mempersatukan; Kedua keluarga mempelai setuju untuk kedua anak mereka disatukan dalam tali pernikahan. Acara ini disebut juga acara serah-serahan - bisa diartikan sang calon mempelai perempuan 'diserahkan' kepada keluarga calon mempelai pria sebagai menantu mereka atau calon mempelai pria nyantri di kediaman keluarga calon mempelai perempuan.

    J.      Upacara Ijab
    Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan. Upacara ini disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah.


    K.      Pawai (untuk anggota kerajaan)
    Untuk pernikahan anggota kerajaan Surakarta, setelah upacara panggih diakhiri dengan pawai yang meriah agar seluruh warga kota Solo dapat melihat anggota kerajaan yang baru menikah. Pada acara ini seluruh anggota keraton termasuk tentara keraton berpakaian serba tradisional. Jika yang menikah adalah seorang pangeran, maka sang pangeran mengendarai kuda di bagian paling belakang pawai, di belakang kereta kerajaan yang berisi sang istri pangeran. Prosesi pawai mengelilingi halaman keraton selama satu kali kemudian iring-iringan akan memasuki halaman keraton.


    Sebagai hiasan, sepasang kembar mayang diletakkan di samping kanan dan kiri tempat duduk pengantin selama resepsi pernikahan. Kembar mayang hanya digunakan jika pasangan pengantin belum pernah menikah sebelumnya.

    Setelah itu pengantin laki-laki (dengan ditemani kerabat dekatnya (orang tuanya tidak boleh menemaninya dalam acara ini) tiba di depan gerbang rumah pengantin perempuan dan pengantin perempuan keluar dari kamar pengantin dengan diapit oleh dua orang tetua perempuan dan diikuti dengan orang tua dan keluarganya. Di depannya dua anak perempuan (yang disebut Patah) berjalan dan dua remaja laki-laki berjalan membawa kembar mayang


    L.      Resepsi
    Setelah semua upacara selesai dilakukan, saatnya untuk resepsi pernikahan dan para tamu mulai makan dan minum makanan tradisional Solo dengan disertai tari tradisional Jawa dan musik gamelan. Acara foto-foto dan salam-salaman dengan kedua pengantin juga dilangsungkan

















    #Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_adat_Surakarta

    Menumbuhkan Kesadaran Bernegara Bagi Para Pemuda

     
    Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.
    Indonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa.
    Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda.
    Tempat berlindung di hari tua.
    Sampai akhir menutup mata.






    Sebuah sajak karya Ismail Marzuki menyatukan jiwa bangsa Indonesia, menggelorakan semangat persatuan bangsa sampai akhir hayat. Sepintas, lirik lagu di atas hanyalah nyanyian wajib yang biasa dilagukan setiap upacara bendera di sekolah-sekolah. Namun, sama sekali bukan itu maksud sang composer lagu. Lagu tersebut ditujukan kepada siapapun jiwa yang rindu pada tanah air Indonesia yang asri, aman, dan nyaman. Tidak terlepas apakah dia berada di dalam negeri ataupun luar negeri.

    Semangat perjuangan bangsa ini memperebutkan kemerdekaan sangatlah panjang. Tidak hanya stagnan sampai tercapainya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, namun berlanjut hingga sekarang. Hanya cara perjuangannya saja yang berbeda.

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dan lain-lain; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Memang, ada banyak persepsi yang dijabarkan oleh KBBI tersebut. Namun, hal penting yang dapat ditangkap adalah bahwa merdeka itu “mandiri”. Bagaimana dengan bangsa Indonesia?

    Semangat perjuangan bangsa ini tampaknya sudah robek oleh masuknya arus globalisasi. Secara ekonomi, memang arus globalisasi dapat meningkatkan volume perdagangan. Namun, tidak sepantasnya kita melihat hanya dari satu sisi keuntungan belaka. Masih ada berbagai macam segi kehidupan yang berdampak pada “zaman global” sekarang. Yah, “multiflier effect”, begitulah namanya.

    Sebagai sebuah sistem yang sangat kompleks, negara Indonesia memiliki beribu pulau yang sampai saat ini belum kesemuanya terdata. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan zamrud di khatulistiwa yang membuat semua orang di luar sana iri dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Namun, belum tentu dengan kekayaan sumber daya manusianya. Walaupun penduduk Indonesia lebih kurang ¼ milyar orang, hanya secuil saja yang memiliki kualitas mendunia dan beretika. Tidak semuanya dapat dibanggakan dari Indonesia.

    Negara Jepang pernah beretorika untuk “meminjam” negara Indonesia di bawah kekuasaan mereka. Melihat potensi yang ada di bumi Indonesia, mereka yakin, hanya dengan 5 tahun, jika mereka yang mengelola, Indonesia akan lebih makmur dari negara Jepang itu sendiri. Hal yang sangat memalukan bagi wajah pemuda bangsa yang katanya penuh dengan semangat ini. Hanya dengan dua musim utama, lebih sedikit dibanding negara dengan empat musim, seharusnya Indonesia memang lebih makmur karena tantangan yang dihadapi tidak sebesar negara lain. Namun faktanya? Ternyata, ada yang salah dengan bangsa kita. Bangsa kita sakit. Sakit yang mengakar. Walaupun sudah “terdeteksi” apa penyakitnya, namun upaya penyembuhannya sangatlah sulit.

    Sadarkah kita, para pemuda, dengan setiap jengkal yang kita pijak adalah harta bagi anak cucu kita? Indonesia menyimpan beragam Sumber Daya Alam (SDA) yang diwariskan oleh Tuhan. Namun, kesalahan manajemen dari “atasan” penguasa negara ini membuat semuanya tidak termanfaatkan seoptimal mungkin. Sayang memang kedengarannya. Namun, inilah Indonesia kita. Negara dengan sejuta kekayaan alam dan juga semilyar masalah tak terselesaikan.

    Di zaman globalisasi ini, landasan utama berpijak bagi pemuda adalah kekayaan lokal dan pemanfaatan potensinya. Gejolak yang sedang terjadi adalah, pemuda Indonesia sendiri pun terkadang enggan dan malu dengan bangsanya. Buktinya? Banyak. Terkadang kita tidak sadar melakukannya. Penggunaan produk-produk asing yang memang bukan dari Indonesia alias “imporan” telah terbukti dengan sukses meruntuhkan industri dalam negeri. Tas luar negeri. Baju luar negeri. Apapun itu serba merek luar negeri. Nilai prestise-nya terasa jauh lebih memuaskan dibandingkan produk asli dalam negeri. Harga memang bersaing, kualitas pun tidak jauh beda. Namun, mengapa ini terjadi? Saya mengartikannya sebagai sebuah ketidakpercayaan diri terhadap bangsa.

    Sekarang, sedang rame-ramenya terpampang jargon “100% Love Indonesia”. Memang, ini merupakan produk asli Indonesia. Sebagai langkah awal dalam mewujudkan rasa cinta akan produk dalam negeri, menurut hemat saya, hal ini berhasil. Namun, bukan hanya dari aspek produknya, kualitas juga adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Kebanyakan barang Indonesia gagal bersaing di pasaran internasional karena kualitas yang berada sedikit di bawah barang asing.

    Jika ditilik dari aspek nasionalisme, terutama dalam bertutur kata, terjadi juga ketidak-PD-an pemuda bangsa. Banyaknya istilah yang dicampuradukkan tanpa jelas asal usulnya dapat menghilangkan bahasa asli Indonesia di masa depannya. Memang, hal ini memperkaya bahasa kita sendiri, namun efek negatifnya jauh lebih besar. “Zaman berbahasa Inggris”, begitulah alasan yang dinyatakan. Haruskah Bahasa Inggris menggerus Bahasa Indonesia kita?

    Dimana peran generasi muda brilian yang dihasilkan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia ini? Tenggelam entah kemana, begitulah keadaannya. Ketidakberdayaan ini dengan mudah dimanfaatkan bangsa-bangsa asing yang rakus dan iri dengan kekayaan Indonesia. Yah, kita sudah sering mendengar konflik perbatasan Indonesia dan Malaysia. Sampai akhirnya Pulau Ambalat jatuh ke tangan Malaysia. Perlahan namun pasti, kegiatan perampasan pulau Indonesia oleh orang lain menjadi lazim bagi “negara korban” ini sendiri.  Aturan sudah jelas namun aplikasi dari oknumnya saja yang tidak beres.

    Kecintaan terhadap tanah air hendaknya ditanamkan dari pendidikan dini. Lagu-lagu kebangsaaan, tradisi dan tari-tarian daerah, tayangan TV yang mendidik generasi bisa menjadi contohnya. Saat ini, telah terjadi pergeseran kebudayaan di semua lapisan. Anak-anak sudah kehilangan jati diri mereka sendiri dan dipaksakan dengan jati diri dan kebiasaan orang lain. Ibarat buah yang dikarbit. Cepat masak, namun kualitas melempem. Tidak ada lagi masa kanak-kanak yang penuh dengan permainan sederhana dan menyenangkan. Hal ini jelas berpengaruh terhadap sikap sosialisasi sang anak dengan lingkungannya. Sang anak yang akan menjadi generai penerus bangsa ini dipaksa mengikuti perkembangan zaman secara instan tanpa adanya “dinding” pelindung mereka yaitu kebudayaan timur yang tertanam kuat.

    Memang ada banyak masalah yang sedang melanda negara ini. Namun, sebagai negara yang bijak, hendaknya masalah yang dihadapi semakin menguatkan sendi-sendi kesiapsiagaannya. Ambillah makna dari setiap kejadian yang ada. Saya yakin bahwasannya masyarkat Indonesia memiliki kelebihan yang dahsyat. Hanya saja karena aksi kebijakan dari regulasi pemerintah yang tidak pro-rakyat menyebabkan potensi itu tenggelam. Ada banyak bibit generasi muda yang dapat dibanggakan dari negara ini.

    Indonesia mulai dilirik negara lain dari bidang prestasinya di sektor pendidikan. Olimpiade Fisika, Matematika, Kimia pernah dijuarai oleh Indonesia. Bahkan di bidang Fisika, Indonesia sempat meraih emas dan mengalahkan negara-negara lain di dunia. Sebuah prestasi yang membanggakan di tengah kesemrawutan birokrasi di bangsa ini.

    Terlebih lagi jika kita berbicara mengenai kasus korupsi. Berdasarkan data yang dirilis tahun 2010 oleh PERC (Political & Economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong, Indonesia menempati urutan Pertama dalam nominasi 16 Negara Terkorup di Asia Pasifik. Sangat memalukan memang. Namun itulah wajah asli dari Indonesia. Bagaikan kombinasi hitam putih yang menghasilkan warna abu-abu. Semua serba tidak jelas.  Namun, dibalik kesemua itu, Indonesia mulai berbenah diri untuk memperbaiki kondisinya. Peran aktif dari Pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan sebagai penawar racun tersebut.

    Kekompleksitasan masalah di atas memaksa kita untuk melakukan sebuah perubahan mendasar ke arah yang baik. Sejarah yang sudah terjadi hendaknya dijadikan pelajaran untuk merencanakan “what’s next” daripada menyalahkan oknum pelakunya. Pemerintahan di masa depan seharusnya bersifat meritocracy. Hal ini mengisyaratkan siapa yang layak dialah yang benar-benar harus berada di tingkat atas negara ini. Itulah para pemuda bangsa yang memiliki etika.

    Indonesia sebenarnya kaya. Kaya akan potensi dunia yang meng-iri-kan negara lain, potensi ide dari ¼ Milyar penduduknya. Tapi semua menjadi “sleeping giant” yang tak tahu entah kapan akan terbangun. Seandainya potensi “tertidur” itu dapat kita manfaatkan seoptimal mungkin, bukan tidak mungkin, negara ini kelak akan menjadi negara super power menggeser negara Amerika Serikat. Mulai sekarang, wahai para pemuda, bangkitlah. Bangunkan potensi yang ada pada dirimu demi kesejahteraan bangsamu. Memang tidak mudah. Semua butuh proses. Lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.




    #Sumber : http://kem.ami.or.id/2011/11/menumbuhkan-kesadaran-bernegara-bagi-para-pemuda/


    Tradisi Membuang Sampah Sembarangan

    Tradisi adalah sebuah kebiasaaan turun menurun peninggalan leluhur kita. Beraneka ragam tradisi di Indonesia yang saat ini masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Tradisi tersebut sengaja dilestarikan agar para penerus tetap mengenal tentang adat dan kebiasaan meskipun setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda.

    Dari tradisi tersebut, kita bangsa Indonesia patut berbangga dengan keanekaragaman tradisi yang berbeda-beda. Namun ada hal yang perlu kita buang dalam sebuah tradisi atau kebiasan buruk yang dapat merugikan bangsa yaitu membuang sampah sembarangan. Memang terlihat melenceng dari tradisi yang sering kita lihat atau pelajari namun jika ditilik dari kebiasaan kebanyakan masyarakat kita yang sudah terbiasa membuang sampah sembarangan, mereka mengatakan kalau membuang sampah di sembarang tempat sudahlah menjadi tradisi atau kebiasaan turun menurun sehingga susah untuk dihilangkan.

    Sejak kecil, kita telah diajarkan kepada orang tua kita untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Ketika duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, aturan itu diajarkan dan diterapkan bahkan anak-anak balita yang belum masuk sekolah Taman Kanak-Kanak pun sudah diajari oleh orang tua kita. Namun  seiring bertambahnya usia, larangan membuang sampah di sembarang tempat semakin memudar dan menghilang. Keadaan ini makin diperparah dengan tingkah laku seseorang yang dulu selalu menggembar-gemborkan tentang larangan itu. Namun beliau sang pahlawan, tidak sungkan melempar sampah begitu saja tanpa rasa bersalah bahkan malu terhadap tingkahnya yang telah melanggar larangan. Padahal jika kita kepergok telah membuang sampah sembarangan, beliau akan marah dan tentunya menghukum kita tanpa kompromi. Namun jika kita yang memergoki dan mencoba memberitahu, beliau marah dan mengatai kita yang lebih muda, tidak mengetahui apa-apa. Tentunya kita pernah melihat dan mengalami peristiwa itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa membuang sampah sembarangan memang sudah mengakar pada kita baik dari kalangan bawah yang tidak berpendidikan sampai kalangan elit yang mempunyai derajat dan martabat lebih tinggi dari pada seorang gelandangan yang berpendidikan dan berperasaan. Bagi saya orang yang membuang sampah sembarangn sebenarnya tidak berbeda, entah mereka dari kalangan rendahan sampai kalangan elit sekalipun. Mereka sama-sama orang rendahan yang tidak punya toleransi terhadap lingkungan.

     
    Mari kita lihat di sekeliling kita. Banyak sampah berserakan di mana-mana. Di rumah, di sungai dan di jalan yang sering kita lewati hingga merusak pemandangan mata. Sampah ibarat pemandangan biasa saja bagi kita juga mereka yang membuang sampah sembarang. Mereka tidak sungkan untuk membuangnya begitu saja. Sebagai contoh, di jalan raya. Pada suatu hari ada sebuah mobil sedan keluaran terbaru meluncur perlahan dengan mulus. Kaca jendela dibuka sedikit kemudian keluarlah puntung rokok, botol air mineral kosong, tisu, plastik bungkus makanan kecil dan lain-lain. Tanpa ragu, penghuni mobil mewah tersebut membuangnya di jalan. Sampah sudah hilang dan tidak merusak pemandangan di dalam mobil. Sangat nyaman bagi penghuni mobil tersebut namun, apakah dia tidak berpikir akan merugikan orang lain yang berkendara di belakangnya? Pastilah pengendara sial yang ada di belakangnya akan terkejut sebab tiba-tiba ada benda asing terbang di hadapannya. Kadang kita tidak habis pikir kenapa sampah tadi tidak dimasukkan ke dalam tas plastik baru kemudian dibuang di bak sampah yang telah disediakan? Bukankan di setiap ruas di pinggir jalan telah disediakan tempat pembuangan sampah? Bahkan bak sampah yang tersedia sudah ada jenisnya. Bak sampah untuk sampah organik dan anorganik. Kenapa bak sampah tidak digunakan dengan baik dan selayaknya sebagaimana fungsi bak sampah?

    Maka tidak salah jika alam mengamuk akibat ulah manusia yang tidak mempunyai toleransi terhadap lingkungan sehingga di kota besar khususnya Jakarta yang berpenduduk padat terjadi bencana banjir setiap tahunnya. Saat musim penghujan, Jakarta tidak akan luput dari bencana banjir. Dan saat banjir itu terjadi, penduduk yang mengalami musibah tersebut mengatakan kalau bencana banjir sudah tradisi. Sampai kapan bencana banjir akan mentradisi kota Jakarta yang notabene sebagai ibukota Indonesia?

    Memang ada beberapa faktor yang sangat berperan sehingga banjir tidak bisa dicegah namun dalam hal ini, saya mengambil salah satu contoh pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya. Contoh yang sering dijumpai adalah banyaknya sampah yang ada di sungai. Sungai bagi masyarakat Jakarta terutama daerah pinggiran sungai yang padat penduduk menjadi alternatif yang sangat praktis bagi orang sekitar sungai untuk membuang sampah. Dan menurut mereka tempat pembuangan sampah paling praktis di adalah di sungai. Sungai yang banyak sampah dapat menyumbat saluran air. Jika sudah tersumbat polusi udara tidak bisa dihindari. Bau busuk menyebar dari sampah-sampah tersebut sehingga dapat menjadi sumber penyakit terlebih sungai tersebut airnya digunakan penduduk sekitar untuk mencuci, mandi dan memasak. Bagaimana masyarakat Indonesia bisa sehat jika mereka tidak menggunakan air bersih untuk kehidupan sehari-hari sebaliknya merekapun sepertinya tidak memperdulikan tentang kebersihan demi kesehatan mereka sendiri. Selain itu, sampah-sampah tersebut dapat merusak pemandangan.

    Pada dasarnya, sampah yang sudah tidak digunakan bisa sangat bermanfaat bagi kita jika kita mempunyai kreatifitas. Sudah banyak contoh yang dihasilkan oleh mereka untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Misalnya, sampah organik bisa menjadi pupuk kompos, botol plastik air mineral dan softdrink bisa dibuat sebuah lampu hias, bungkus atau plastik detergen bisa dimanfaatkan untuk membuat tas, payung dan kreatifitas lainnya. Kardus, box kemasan bisa digunakan untuk membuat permainan educatif seperti gedung bertingkat, mobil, ponsel, dll.

    Jika kita tidak mempunyai kreatifitas tersebut, kita bisa menggerakkan tetangga sekitar untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut kemudian disalurkan kepada para orang yang ahli memanfaatkannya. Hubungan yang saling menguntungkan bisa terjalin. Para pencari limbah tidak kesusahan mencari limbah dan kita tidak kerepotan membuang sampah. Jika kita bisa memperlakukan lingkungan sebagaimana memperlakukan diri kita, niscaya bencana banjir bisa dihindari, tidak ada bau busuk yang menyengat dan lingkungan menjadi indah atau sedap dipandang mata. Bukankah, kebersihan merupakan sebagaian dari pada iman? Namun apabila masih saja ada orang  tidak perduli, sepertinya pemerintah harus membuat peraturan untuk mendenda bagi mereka yang membuang sampah sembarang. 

    Mengapa kita tidak memperlakukan lingkungan sebagaimana kita memperlakukan diri kita? Apakah terlalu sulit untuk mematrikan di otak kita agar tidak membuang sampah sembarangan? Lalu apa gunanya aturan dan larangan juga tempat sampah yang sudah disediakan? Apakah mereka hanya sebuah simbol untuk mempercantik lingkungan? Bagaimana bisa lingkungan menjadi indah jika di sekitarnya banyak sampah berserakan di mana-mana? Mungkin kita perlu belajar dari anak kecil yang masih polos itu.
    Jika kita semua sadar akan kebersihan lingkungan, bangsa kita akan menjadi sangat indah. Keindahan tersebut bisa mencerminkan bangsa Indonesia sehingga bisa mempromosikan Indonesia kepada dunia luar yang sering memojokkan negara kita. Jadi masalah sampah merupakan masalah kita semua. Semua masyarakat Indonesia mempunyai tanggung jawab atas permasalahan tersebut. Tidak hanya para petugas kebersihan saja yang bertanggung jawab. Begitu indah jika semua itu terwujud. Tidak ada sampah di sungai yang dapat mengotori dan banjir bisa dicegah seminimal mungkin karena seperti yang kita ketahui, masalah sampah yang dibung sembarangan itu adalah masalah utama penyebab bencana banjir yang sudah mentradisi. Sekarang tergantung diri kita sendiri. Apakah kita akan tetap kekeh menjadi masyarakat bodoh yang tidak luput dari bencana setiap tahunnya? Ataukah kita akan menjadi masyarakat hebat hanya gara-gara sampah yang selalu berada di sekitar kita. Hanya kita yang mampu menjawab semua itu.



    #Sumber : http://kem.ami.or.id/2011/09/menghapus-tradisi/

    Puisi Sebagai Bagian Dari Kebudayaan

    Puisi adalah jenis karangan yang penyajiannya sangat mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna. Puisi yang baik biasanya dapat menimbulkan kesan tersendiri bagi pembacanya. Kesan sebuah puisi dapat timbul dari pilihan kata yang digunakan, gaya bahasa yang indah, atau dapat juga karena perulangan bunyinya yang menarik. Selain itu, seseorang dapat terkesan dengan sebuah puisi karena isi puisi tersebut mampu menghadirkan pengalaman hidup yang mirip dengan pengalaman hidupnya. Di bawah ini merupakan contoh dari puisi :




    Sawah

    Sawah di bawah emas padu,
    Padi melambai, melalai terkulai.
    Naik suara salung serunai, 
    Sejuk didengar, mendamaikan kalbu.
    Sungai bersinar, menyilaukan mata,
    Menyemburkan buih warna pelangi.
    Anak mandi bersuka hati,
    Berkejar - kejaran, berseru gempita.
    Langit lazuardi bersih sungguh,
                     Burung elang melayang - layang,
                        Sebatang kara dalam udara.
                       Desik - berdesik daun buluh,










                 Dibuai angin dengan sayang,         
         Ayam berkokok sayup udara. 
                                                                                  
          (Karya : Sanusi Pane)












    Puisi tersebut menceritakan keindahan pemandangan sawah pada pagi hari. Gambaran tentang hamparan padi yang menguning bagai emas, merdunya suara salung, anak - anak yang mandi di sungai berair jernih, burung elang yang melayang - layang, dan juga suara ayam jantann yang berkokok akan mampu membawa imajinasi kita ke suatu alam pedesaan yang indah, tenteram, dan damai. Penggunaan pilihan kata untuk menggambarkan suasana pedesaan yang indah itulah yang membuat puisi ini terkesan bagi pembaca.