Kelompok VII
·
Adinda Juliani K. (18211400)
·
Ayu Septiningrum (11211333)
·
Dea Anisa Miranti (11211771)
·
Ida Astrida (13211455)
·
Wita Rahmawati (17211459)
Kelas : 4EA01
A.
Pengertian Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah sebuah
proses menentukan sebuah pilihan dari berbagai alternatif pilihan yang
tersedia. Seseorang terkadang dihadapkan pada suatu keadaan dimana ia harus
menentukan pilihan (keputusan) dari berbagai alternatif yang ada. Pada umumnya,
suatu keputusan dibuat dalam rangka untuk memecahkan permasalahan atau
persoalan (problem solving). Dan
setiap keputusan yang dibuat pasti ada tujuan yang hendak dicapai. Ada empat
kategori dalam pengambilan keputusan, yaitu:
a. Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti (certainty),
b. Pengambilan keputusan dalam kondisi resiko (risk),
c. Pengambilan keputusan dalam kondisi tidak pasti (uncertainty) dan
d. Pengambilan keputusan dalam kondisi konflik (conflict).
Namun dari keempat kategori
pengambilan keputusan tersebut, kami hanya akan membahas tentang pengambilan
keputusan dalam kondisi pasti (certainty)
sesuai dengan tugas presentasi yang diberikan oleh dosen mata kuliah teori
pengambilan keputusan.
B.
Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Pasti (certainty)
Pasti artinya semua
informasi yang diperlukan oleh pihak pengambil keputusan telah tersedia secara
menyeluruh. Kepastian adalah kondisi tentang adanya informasi yang akurat,
dapat diukur, dan dapat diandalkan tentang hasil dari berbagai alternatif yang
sedang dipertimbangkan.
Pengambilan keputusan dalam kondisi
pasti (certainty) yaitu pengambilan
keputusan dimana berlangsung hal-hal :
1.
Alternatif yang dipilih
hanya memiliki satu konsekuensi/jawaban/hasil. Ini berarti dari setiap
alternatif tindakan tersebut dapat ditentukan dengan pasti.
2.
Keputusan yang diambil
didukung oleh informasi/data yang lengkap sehingga dapat diramalkan secara
akurat hasil dari setiap tindakan yang dilakukan.
3.
Dalam kondisi ini,
pengambil keputusan secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi dimasa yang
akan datang.
4.
Biasanya selalu
dihubungkan dengan keputusan yang menyangkut masalah rutin, karena kejadian
tertentu dimasa yang akan datang dijamin terjadi.
5.
Pengambilan keputusan
seperti ini dapat ditemui dalam kasus/model yang bersifat deterministik.
6.
Teknik
penyelesaiannya/pemecahannya biasanya menggunakan antara lain, teknik pemrograman
linear, analisis jaringan dan teori antrian.
Apabila semua informasi yang
diperlukan untuk mengambil keputusan telah lengkap, maka keputusan dikatakan
dalam keadaan yang pasti. Sehingga kita dapat meramalkan secara tepat hasil
dari tindakan (action). Misalnya, dalam
persoalan linear programming kita dapat mengetahui berapa jumlah keuntungan (profit) maksimum yang bisa diperoleh
setelah kita mengetahui persediaan setiap jenis bahan dan kebutuhan input bagi
masing-masing jenis produk.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak
sekali pengambilan keputusan dalam kondisi pasti. Kita tahu dengan pasti arah
untuk berangkat ke kampus, restoran favorit, atau obat yang mujarab. Hal-hal
semacam itu sudah rutin kita laksanakan sehingga tidak perlu pemikiran yang
mendalam.
C.
Teknik Penyelesaian Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Pasti
Beberapa teknik penyelesaian pengambilan keputusan kondisi
pasti diantaranya
adalah Linear Programming, Analisis Jaringan dan Teori Antrian.
1.
Linear
Programming
atau Pemrograman Linier
Adalah
metode matematik dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk mencapai
suatu tujuan seperti memaksimumkan keuntungan dan meminimumkan biaya. Linear
programming banyak diterapkan dalam masalah ekonomi, industri, militer,
sosial dan lain-lain. LP berkaitan dengan penjelasan suatu kasus dalam dunia
nyata sebagai suatu model matematik yang terdiri dari sebuah fungsi tujuan
linier dengan beberapa kendala linier (Siringoringo, 2005).
Dalam
model LP dikenal dua macam fungsi, yaitu fungsi tujuan (objective function) dan fungsi-fungsi batasan (constraint function). Fungsi tujuan adalah fungsi yang
menggambarkan tujuan atau sasaran di dalam permasalahan LP yang berkaitan
dengan pengaturan secara optimal sumber daya-sumber daya, untuk memperoleh
keuntungan maksimal dan memperoleh biaya minimal. Sedang fungsi batasan
merupakan bentuk penyajian secara matematis batasn-batasan kapasitas yang
tersedia yang akan dialokasikan secara optimal ke berbagai kegiatan.
Asumsi
dasar dalam linear programing yaitu :
1. Proportionality,
dimana naik turunnya nilai Z (tujuan) dan penggunaan sumber daya akan berubah
secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatannya.
Contoh : Z = C1X1 + X2C2 + ...........+
CnXn
Penambahan 1
unit X1 akan menaikkan nilai Z sebesar C1, dan seterusnya
2. Additivity,
dimana nilai tujuan tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi atau kenaikan dari
nilai Z yang diakibatkan oleh kenaikan
suatu kegiatan dapat ditambahkan tanpa mempengaruhi bagian nilai Z yang
diperoleh dari kegiatan lainnya.
3. Divisibility,
dimana output yang dihasilkan oleh setiap kegiatan dapat berupa bilangan
pecahan.
4. Deterministic,
dimana semua parameter yang terdapat dalam linier programing dapat diperkirakan
dengan pasti, meskipun jarang tepat.
Contoh
Kasus
Perusahaan
sepatu IDEAL berencana memproduksi 2 macam sepatu, yakni sepatu merek NIKE
dengan sol terbuat dari karet, serta sepatu merek ADIDAS dengan sol terbuat
dari kulit. Untuk membuat sepatu-sepatu tersebut perusahaan dihadapkan dengan
berbagai kendala/batasan, yang salah satunya adalah : perusahaan hanya dapat
menggunakan 3 macam mesin yang hanya berjumlah 1 buah untuk setiap jenisnya.
Mesin A khusus membuat sol dari karet, mesin B khusus membuat sol dari kulit,
sedangkan mesin C membuat dan melakukan assembling bagian atas dengan sol. Jam
kerja maksimum dari ketiga mesin tersebut berturut-turut adalah Mesin A = 8
jam, mesin B = 15 jam, dan mesin C = 30 jam.
Setiap
lusin sepatu NIKE mula-mula dikerjakan oleh mesin A selama 2 jam, kemudian
tanpa melalui mesin B terus dikerjakan di mesin C selama 6 jam. Sedangkan untuk
sepatu dengan merk ADIDAS, tidak diproses oleh mesin A, tetapi pertama kali
dikerjakan di mesin B selama 3 jam dan kemudian langsung di mesin C selama 5
jam.
Pihak
perusahaan mengharapkan bahwa setiap lusin sepatu NIKE dapat memberikan
kontribusi keuntungan sebesar Rp 300.000,- dan Rp 500.000,- untuk setiap lusin
sepatu merk ADIDAS.
Permasalahan
: Berapa lusinkah sepatu merk NIKE dan ADIDAS harus diproduksi oleh perusahaan
IDEAL, agar dapat diperoleh hasil yang optimal (keuntungan yang maksimal)?
Jawab :
Untuk menyelesaikan kasus di atas dengan menggunakan metode grafik, langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut :
Pada
prinsipnya setiap titik dalam daerah feasible akan memberikan keuntungan bagi
perusahaan ( kecuali satu tutik, yakni titik 0 ). Namun demikian dari semua
titik tersebut, nilai Z akan semakin tinggi apabila makin jauh dari titik
origin ( 0 ). Oleh karena itu sebaiknya hanya membandingkan titik-titik yang
ada di sudut-sudut daerah feasible tersebut.
Pada
titik O ( 0,0 ) Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 0 ) = 0
Pada
titik A ( 4, 0 ) atau X1 = 4 dan X2 = 0
Nilai Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 0 ) = 12
Pada
titik B ( 4, …..) atau X1 = 4 dan X2 belum diketahui …
Karena
titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 1 dan batasan 3, maka untuk
mendapatkan nilai X2, nilai X1 = 4 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan
3, yakni :
6
( 4 ) + 5X2 = 30
5
X2 = 30 – 24
X 2 = 6/5, sehingga koordinat
titik B adalah ( 4, 6/5 )
Nilai
Z = 3 ( 4 ) + 5 ( 6/5 ) = 18
Pada
titik C ( ……, 5 ) atau X1 = belum diketahui dan X2 = 5
Karena
titik B merupakan perpotongan antara fungsi batasan 2 dan batasan 3, maka untuk
mendapatkan nilai X1, nilai X2 = 5 tersebut dapat dimasukkan ke fungsi batasan
3, yakni
6X1
+ 5 ( 5 ) = 30
6 X 1 = 30 – 25
X
1 = 5/6, sehingga koordinat titik C adalah ( 5/6, 5 )
Nilai
Z = 3 ( 5/6 ) + 5 ( 5 ) = 27, 5
Pada
titik D ( 0, 5 ) atau X1 = 0 dan X2 = 5 Nilai Z = 3 ( 0 ) + 5 ( 5 ) = 25
Kesimpulan
: Dari kelima titik 9 A, B, C, D, dan O ) yang dibandingkan ternya titik C-lah
yang memberikan hasil paling besar yakni 27,5. Oleh karena itu perusahaan akan
mendapatkan keuntungan yang maksimal sebesar Rp 2.750.000,- apabila mampu
memproduksi sepatu dengan sol karet ( X1 ) sebanyak 5/6 lusin dan sepatu dengan
sol kulit sebanyak 5 lusin.
2 2.
Analisis
Jaringan
Secara
umum dapat dikatakan bahwa analisis jaringan digunakan untuk membantu
menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari serangkaian pekerjaan. Masalah-
masalah yang dimaksud antara lain adalah :
a. Waktu penyelesaian
dari serangkaian pekerjaan tersebut.
b.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan serangkaian pekerjaan tersebut.
c.
Waktu menganggur yang terjadi di setiap pekerjaan.
Analisis jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh
perusahaan jasa konsultan manajemen Boaz, Allen dan Hamilton yang dibuat untuk
keperluan perusahaan pesawat terbang Lockhead. Metode yang biasanya digunakan
sering disebut dengan PERT yang merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Technique.
Beberapa contoh serangkaian pekerjaan yang dapat
diselesaikan dengan analisis jaringan antara lain adalah serangkaian pekerjaan
produksi, serangkaian pekerjaan membangun gedung, serangkaian pekerjaan mengganti
mesin yang rusak dll.
Istilah – istilah dalam analisis jaringan antara
lain adalah :
· Aktivitas,
adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan sumberdaya (waktu, tenaga,
biaya). Aktivitas ini biasanya disimbolkan dengan anak panah.
· Kejadian,
adalah permulaan atau akhir dari sebuah aktivitas, dan disimbolkan dengan
sebuah lingkaran.
· Jalur
kritis adalah sebuah jalur yang waktu penyelesaian serangkaian pekerjaannya
paling besar/panjang.
Beberapa hal yang
penting dalam analisis jaringan adalah :
1. Sebelum
suatu aktivitas dimulai, semua aktivitas yang mendahuluinya (yang menjadi syarat)
harus sudah selesai dikerjakan terlebih dahulu.
2. Anak
panah yang menjadi simbol sebuah aktivitas hanya menunjukkan arah dan urutan
kejadian, jadi panjang pendek dan bentuknya tidak akan memberi pengaruh apapun.
3. Lingkaran,
yang merupakan simbol dari kejadian, diberi nomor sedemikian rupa sehingga
tidak memiliki nomor yang sama dan sebaiknya berurutan, sehingga dapat
menggambarkan urutan kejadian. Biasanya nomor yang lebih kecil diletakkan di
kejadian awal (permulaan anak panah).
4. Dua
buah kejadian (lingkaran) hanya dapat dihubungkan dengan satu anak panah.
5. Sebuah
rangkaian pekerjaan hanya dapat dimulai dan diakhiri dengan sebuah kejadian
(lingkaran).
Contoh Kasus
Sebuah
perusahaan MAJU TERUS sedang menghadapi masalah dengan kerusakan mesin
produksinya berencana mengganti mesin yang rusak tersebut. Setelah dialakukan
identifikasi, serangkaian kegiatan yang diperlukan dalam rangka penggantian
mesin yang rusak tersebut adalah seperti
terlihat pada tabel berikut ini.
Kegiatan
|
Keterangan
|
Kegiatan yang Mendahului
|
Waktu yang Dibutuhkan
|
A
|
Merencanakan
|
-
|
10 hari
|
B
|
Memesan mesin baru
|
A
|
2 hari
|
C
|
Menyiapkan mesin
|
B
|
8 hari
|
D
|
Pesan material rangka mesin
|
A
|
4 hari
|
E
|
Membuat rangka
|
D
|
3 hari
|
F
|
Finishing rangka
|
E
|
1 hari
|
G
|
Memasang mesin pada rangka
|
C, F
|
5 hari
|
Dari
masalah perusahaan di atas, berapakah waktu optimal yang diperlukan untuk
menyelesaikan serangkaian pekerjaan penggantian mesin tersebut?
Jawab
:
Langkah
pertama adalah menggambarkan serangkaian pekerjaan tersebut sesuai dengan
urutan waktu pekerjaan yang ada dalam tabel.
![]() |





D4

F1


F1 






D4

F1


F1
Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa :
a. Jalur
kritis dari rangkaian kegiatan di atas adalah jalur 1, 2, 3, 6, dan 7, atau
jalur yang memiliki nilai EF dan LF yang sama.
b. Dengan
jalur kritis tersebut, paling cepat, rangkaian pekerjaan penggantian mesin
tersebut baru akan selesai pada hari ke-25.
c. Untuk
kejadian 6, meskipun jalur bawah (1, 2, 4, 5, dan 6) sudah selesai pada hari ke
18, namun pekerjaan g tidak dapat dilakukan karena untuk melakukannya menunggu
pekerjaan c selesai lebih dahulu, dan pekerjaan c baru akan selesai pada hari ke-20. Karena itu pekerjaan g baru dapat
dimulai setelah hari ke-20.
3.
Teori
Antrian
Teori antrian diciptakan
oleh A.K. Erlang pada tahun 1909 yang pada saat itu mempelajari fluktuasi
permintaan fasilitas telepon dan keterlambatan pelayanannya. Teori antrian
dirancang untuk memperkirakan berapa banyak langganan menunggu dalam suatu
garis antrian, kepanjangan garis tunggu, seberapa sibuk fasilitas pelayanan dan
apa yang terjadi bila waktu pelayanan atau pola kedatangan berubah.
Biasanya antrian
terlihat setiap harinya pada :
· Deretan
mobil yang mengantri untuk mengambil tiket atau membayar jalan tol
· Antrian
pengambilan DNU dan DNS mahasiswa gunadarma di loket BAAK
· Antian
penonton yang ingin membeli karcis bioskop
· Menunggu
pesanan pada suatu restoran
· Kedatangan
kapal di suatu pelabuhan
Sistem
antrian terdiri dari sistem pelayanan komersil, sistem pelayanan bisnis
industri, sistem pelayanan transportasi dan sistem pelayanan sosial.
Contoh
Kasus
Tingkat
kedatangan pelanggan “Michael Studio” adalah 66 orang per jam mengikuti distribusi
poisson dengan tingkat pelayanan sebesar 88 orang per jam. Maka tentukanlah :
a) Tingkat
kegunaan.
b) Jumlah
pelanggan rata-rata dalam sistem.
c) Jumlah
pelanggan rata-rata dalam antrian.
d) Waktu
rata – rata dalam sistem.
e) Waktu
rata – rata dalam antrian.
f) Probabilitas
adanya pelanggan ke-4 dalam sistem.
g) Probabilitas
adanya 7 pelanggan
dalam sistem.
h) Buatlah
analisisnya.
Jawab
:
Diketahui
: λ = 66 orang/jam
µ = 88 orang/jam
a) 
Tingkat
kegunaan (U) = λ =
66 = 0,75 “efektif”
µ 88
Bahwa
pegawai “Michael Studio” akan sibuk melayani pelanggan selama 75% dari
waktunya,sedangkan 25% (1-p) menganggur.
b) Jumlah
pelanggan rata-rata dalam sistem
Angka
3 menunjukkan bahwa pegawai dapat mengharapkan 3 pelanggan yang berada dalam
sistem.
c) Jumlah
pelanggan rata – rata dalam antrian

Jadi, pelanggan yang menunggu untuk
dilayani dalam antrian sebanyak 2 pelanggan.
d) Waktu
rata – rata dalam sistem

Jadi, waktu rata – rata pelanggan
menunggu dalam sistem selama 2,7 menit.
e) Waktu
rata – rata dalam antrian

Jadi, waktu rata – rata pelanggan
menunggu dalam antrian selama 2,04 menit.
f) Probabilitas
adanya pelanggan ke 4 dalam sistem

Jadi, probabilitas adanya pelanggan ke 4
dalam sistem adalah 0,079.
g) Probabilitas
adanya 7 pelanggan dalam sistem

Jadi, probabilitas adanya 7 pelanggan
sistem adalah 0,89889.
# Sumber :
Buku Riset
Operasional karangan Drs. Pangesty Subagyo, MBA, dkk.
rogayah.staff.gunadarma.ac.id/.../pengambilan+keputusan+dalam+kondi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar