Senin, 28 November 2011

Menumbuhkan Kesadaran Bernegara Bagi Para Pemuda

 
Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.
Indonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa.
Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda.
Tempat berlindung di hari tua.
Sampai akhir menutup mata.






Sebuah sajak karya Ismail Marzuki menyatukan jiwa bangsa Indonesia, menggelorakan semangat persatuan bangsa sampai akhir hayat. Sepintas, lirik lagu di atas hanyalah nyanyian wajib yang biasa dilagukan setiap upacara bendera di sekolah-sekolah. Namun, sama sekali bukan itu maksud sang composer lagu. Lagu tersebut ditujukan kepada siapapun jiwa yang rindu pada tanah air Indonesia yang asri, aman, dan nyaman. Tidak terlepas apakah dia berada di dalam negeri ataupun luar negeri.

Semangat perjuangan bangsa ini memperebutkan kemerdekaan sangatlah panjang. Tidak hanya stagnan sampai tercapainya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, namun berlanjut hingga sekarang. Hanya cara perjuangannya saja yang berbeda.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dan lain-lain; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Memang, ada banyak persepsi yang dijabarkan oleh KBBI tersebut. Namun, hal penting yang dapat ditangkap adalah bahwa merdeka itu “mandiri”. Bagaimana dengan bangsa Indonesia?

Semangat perjuangan bangsa ini tampaknya sudah robek oleh masuknya arus globalisasi. Secara ekonomi, memang arus globalisasi dapat meningkatkan volume perdagangan. Namun, tidak sepantasnya kita melihat hanya dari satu sisi keuntungan belaka. Masih ada berbagai macam segi kehidupan yang berdampak pada “zaman global” sekarang. Yah, “multiflier effect”, begitulah namanya.

Sebagai sebuah sistem yang sangat kompleks, negara Indonesia memiliki beribu pulau yang sampai saat ini belum kesemuanya terdata. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan zamrud di khatulistiwa yang membuat semua orang di luar sana iri dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Namun, belum tentu dengan kekayaan sumber daya manusianya. Walaupun penduduk Indonesia lebih kurang ¼ milyar orang, hanya secuil saja yang memiliki kualitas mendunia dan beretika. Tidak semuanya dapat dibanggakan dari Indonesia.

Negara Jepang pernah beretorika untuk “meminjam” negara Indonesia di bawah kekuasaan mereka. Melihat potensi yang ada di bumi Indonesia, mereka yakin, hanya dengan 5 tahun, jika mereka yang mengelola, Indonesia akan lebih makmur dari negara Jepang itu sendiri. Hal yang sangat memalukan bagi wajah pemuda bangsa yang katanya penuh dengan semangat ini. Hanya dengan dua musim utama, lebih sedikit dibanding negara dengan empat musim, seharusnya Indonesia memang lebih makmur karena tantangan yang dihadapi tidak sebesar negara lain. Namun faktanya? Ternyata, ada yang salah dengan bangsa kita. Bangsa kita sakit. Sakit yang mengakar. Walaupun sudah “terdeteksi” apa penyakitnya, namun upaya penyembuhannya sangatlah sulit.

Sadarkah kita, para pemuda, dengan setiap jengkal yang kita pijak adalah harta bagi anak cucu kita? Indonesia menyimpan beragam Sumber Daya Alam (SDA) yang diwariskan oleh Tuhan. Namun, kesalahan manajemen dari “atasan” penguasa negara ini membuat semuanya tidak termanfaatkan seoptimal mungkin. Sayang memang kedengarannya. Namun, inilah Indonesia kita. Negara dengan sejuta kekayaan alam dan juga semilyar masalah tak terselesaikan.

Di zaman globalisasi ini, landasan utama berpijak bagi pemuda adalah kekayaan lokal dan pemanfaatan potensinya. Gejolak yang sedang terjadi adalah, pemuda Indonesia sendiri pun terkadang enggan dan malu dengan bangsanya. Buktinya? Banyak. Terkadang kita tidak sadar melakukannya. Penggunaan produk-produk asing yang memang bukan dari Indonesia alias “imporan” telah terbukti dengan sukses meruntuhkan industri dalam negeri. Tas luar negeri. Baju luar negeri. Apapun itu serba merek luar negeri. Nilai prestise-nya terasa jauh lebih memuaskan dibandingkan produk asli dalam negeri. Harga memang bersaing, kualitas pun tidak jauh beda. Namun, mengapa ini terjadi? Saya mengartikannya sebagai sebuah ketidakpercayaan diri terhadap bangsa.

Sekarang, sedang rame-ramenya terpampang jargon “100% Love Indonesia”. Memang, ini merupakan produk asli Indonesia. Sebagai langkah awal dalam mewujudkan rasa cinta akan produk dalam negeri, menurut hemat saya, hal ini berhasil. Namun, bukan hanya dari aspek produknya, kualitas juga adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Kebanyakan barang Indonesia gagal bersaing di pasaran internasional karena kualitas yang berada sedikit di bawah barang asing.

Jika ditilik dari aspek nasionalisme, terutama dalam bertutur kata, terjadi juga ketidak-PD-an pemuda bangsa. Banyaknya istilah yang dicampuradukkan tanpa jelas asal usulnya dapat menghilangkan bahasa asli Indonesia di masa depannya. Memang, hal ini memperkaya bahasa kita sendiri, namun efek negatifnya jauh lebih besar. “Zaman berbahasa Inggris”, begitulah alasan yang dinyatakan. Haruskah Bahasa Inggris menggerus Bahasa Indonesia kita?

Dimana peran generasi muda brilian yang dihasilkan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia ini? Tenggelam entah kemana, begitulah keadaannya. Ketidakberdayaan ini dengan mudah dimanfaatkan bangsa-bangsa asing yang rakus dan iri dengan kekayaan Indonesia. Yah, kita sudah sering mendengar konflik perbatasan Indonesia dan Malaysia. Sampai akhirnya Pulau Ambalat jatuh ke tangan Malaysia. Perlahan namun pasti, kegiatan perampasan pulau Indonesia oleh orang lain menjadi lazim bagi “negara korban” ini sendiri.  Aturan sudah jelas namun aplikasi dari oknumnya saja yang tidak beres.

Kecintaan terhadap tanah air hendaknya ditanamkan dari pendidikan dini. Lagu-lagu kebangsaaan, tradisi dan tari-tarian daerah, tayangan TV yang mendidik generasi bisa menjadi contohnya. Saat ini, telah terjadi pergeseran kebudayaan di semua lapisan. Anak-anak sudah kehilangan jati diri mereka sendiri dan dipaksakan dengan jati diri dan kebiasaan orang lain. Ibarat buah yang dikarbit. Cepat masak, namun kualitas melempem. Tidak ada lagi masa kanak-kanak yang penuh dengan permainan sederhana dan menyenangkan. Hal ini jelas berpengaruh terhadap sikap sosialisasi sang anak dengan lingkungannya. Sang anak yang akan menjadi generai penerus bangsa ini dipaksa mengikuti perkembangan zaman secara instan tanpa adanya “dinding” pelindung mereka yaitu kebudayaan timur yang tertanam kuat.

Memang ada banyak masalah yang sedang melanda negara ini. Namun, sebagai negara yang bijak, hendaknya masalah yang dihadapi semakin menguatkan sendi-sendi kesiapsiagaannya. Ambillah makna dari setiap kejadian yang ada. Saya yakin bahwasannya masyarkat Indonesia memiliki kelebihan yang dahsyat. Hanya saja karena aksi kebijakan dari regulasi pemerintah yang tidak pro-rakyat menyebabkan potensi itu tenggelam. Ada banyak bibit generasi muda yang dapat dibanggakan dari negara ini.

Indonesia mulai dilirik negara lain dari bidang prestasinya di sektor pendidikan. Olimpiade Fisika, Matematika, Kimia pernah dijuarai oleh Indonesia. Bahkan di bidang Fisika, Indonesia sempat meraih emas dan mengalahkan negara-negara lain di dunia. Sebuah prestasi yang membanggakan di tengah kesemrawutan birokrasi di bangsa ini.

Terlebih lagi jika kita berbicara mengenai kasus korupsi. Berdasarkan data yang dirilis tahun 2010 oleh PERC (Political & Economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong, Indonesia menempati urutan Pertama dalam nominasi 16 Negara Terkorup di Asia Pasifik. Sangat memalukan memang. Namun itulah wajah asli dari Indonesia. Bagaikan kombinasi hitam putih yang menghasilkan warna abu-abu. Semua serba tidak jelas.  Namun, dibalik kesemua itu, Indonesia mulai berbenah diri untuk memperbaiki kondisinya. Peran aktif dari Pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan sebagai penawar racun tersebut.

Kekompleksitasan masalah di atas memaksa kita untuk melakukan sebuah perubahan mendasar ke arah yang baik. Sejarah yang sudah terjadi hendaknya dijadikan pelajaran untuk merencanakan “what’s next” daripada menyalahkan oknum pelakunya. Pemerintahan di masa depan seharusnya bersifat meritocracy. Hal ini mengisyaratkan siapa yang layak dialah yang benar-benar harus berada di tingkat atas negara ini. Itulah para pemuda bangsa yang memiliki etika.

Indonesia sebenarnya kaya. Kaya akan potensi dunia yang meng-iri-kan negara lain, potensi ide dari ¼ Milyar penduduknya. Tapi semua menjadi “sleeping giant” yang tak tahu entah kapan akan terbangun. Seandainya potensi “tertidur” itu dapat kita manfaatkan seoptimal mungkin, bukan tidak mungkin, negara ini kelak akan menjadi negara super power menggeser negara Amerika Serikat. Mulai sekarang, wahai para pemuda, bangkitlah. Bangunkan potensi yang ada pada dirimu demi kesejahteraan bangsamu. Memang tidak mudah. Semua butuh proses. Lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.




#Sumber : http://kem.ami.or.id/2011/11/menumbuhkan-kesadaran-bernegara-bagi-para-pemuda/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar