Minggu, 29 Desember 2013

Pengaruh Situasi

Tipe-Tipe Situasi Konsumen
Faktor situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu. Kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen (Asseal, 1998). Sedangkan, menurut Belik (1975), mendefinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang (intra individu) dan stimulasi (alternatif pilihan) serta memiliki bukti dan pengaruh sistematis pada perilaku saat itu. Penelitian telah menemukan bahwa faktor situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan mengubah kemungkinan pemilihan berbagai alternatif.


      A.     PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL
Manusia dilahirkan kedunia seorang diri, tetapi kemudian hidup berkelompok dengan keluarganya. Seperti kita ketahui, manusia pertama adam telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama hawa. Mereka lalu beranak pinak, terbentuklah keluarga, kelompok social, kelompok kekerabatan, masyarakat, bangsa, dan Negara.

1)     Proses Pembentukan Kelompok Sosial
Didalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang paling penting ialah reaksi yang timbul akibat hubungan-hubungan sosial tersebut. Reaksi yang timbul itu, menyebabkan tindakan dan tanggapan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau seseorang mempunyai teman, dia memerlukan reaksi, entah yang berwujud pujian atau celaan, yang mendorong munculnya tindakan-tindakan selanjutnya. Sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
·        Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain dalam masyarakat
·        Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

2)     Persyaratan atau Faktor-Faktor Pembentukan Kelompok Sosial. Terbentuknya kelompok sosial memerlukan persyaratan sebagai berikut:
·        Setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa dirinya merupakan anggota atau bagian dari kelompok sosialnya.
·        Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya.
·        Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan diantara mereka bertambah erat.
·        Kelompok itu berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku yang khas.
·        Kelompok itu bersistem dan berproses terus menerus.

      B.     PERKEMBANGAN KELOMPOK SOSIAL
Kelompok sosial bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok social selalu mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami perubahan yang mencolok. Namun, adapula kelompok sosial yang mengalami perubahan yang cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar.

1)    Perubahan Kelompok Sosial
Kelompok sosial umumnya mengalami perubahan akibat proses revolusi karena pengaruh dari luar. Keadaan tidak stabil pada kelompok sosial dapat terjadi sebagai akibat konflik antar kelompok karena kurangnya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam kelompok tersebut. Ada golongan dalam kelompok sosial yang ingin merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan lain, atau ada kepentingan tidak seimbang, sehingga timbul ketidakadilan atau perbedaan paham atau pandangan tentang cara mencapai tujuan kelompok. Kesemuanya itu mengakibatkan terjadinya perpecahan di dalam kelompok sosial, sehingga timbul perubahan struktur kelompok sosial. Timbulnya struktur kelompok sosial yang baru, pada akhirnya bertujuan mencapai keadaan yang seimbang dan stabil.

Perubahan struktur kelompok sosial dapat pula terjadi karena sebab-sebab dari luar. Ancaman dari luar misalnya, seringkali menjadi faktor yang mendorong terjadinya perubahan struktur kelompok sosial. Situasi yang membahayakan yang berasal dari luar akan memperkuat rasa persatuan dan mengurangi keinginan-keinginan untuk mementingkan diri sendiri dari anggota-anggota kelompok sosial tersebut. Sebab lain, yaitu pergantian pimpinan, staf, atau anggota kelompok sosial yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menurut Max Weber, dalam masyarakat multikultural ada beberapa macam kelompok sosial. Kelompok sosial yang satu berbeda dari kelompok sosial yang lain, walaupun mereka termasuk dalam suatu masyarakat yang sama. Max weber mengemukakan bahwa kelompok masyarakat majemuk berkaitan dengan tatanan yang mengikat dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Masyarakat Indonesia tergolong masyarakat multikultural, yaitu masyarakat yang beragam etnis/suku bangsa, ras, agama, bahasa, adat istiadat, profesi, golongan politik dsb. Keberagaman suku bangsa dan kebudayaan tersebut, tentu saja berpengaruh terhadap sistem dan struktur sosial. Karena itu, dalam masyarakat Indonesia terdapat bermacam-macam kelompok sosial berdasarkan kriteria tertentu, seperti kelompok sosial yang terbentuk karena kepentingan etnis atau suku bangsa, kelompok sosial kerena kepentingan agama, kepentingan profesi dsb. Perkembangan kelompok sosial itu terjadi melalui 2 proses, yaitu proses yang bersifat alami dan disengaja.

2)     Ciri-Ciri Kelompok Sosial
Menurut Sherif, kelompok social memiliki ciri-ciri berikut ini :
§  Terdapat dorongan atau motif yang sama pada setiap anggota kelompok yang menyebabkan terjadinya interaksi ke arah tujuan yang sama.
§  Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan dari individu-individu serta reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat didalamnya.
§  Pembentukan penegasan struktur kelompok yang jelas dan terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarki yang lambat laun berkembang dengan sendirinya dalam pencapaian tujuannya.
§  Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma sebagai pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.


      C.      EKSPERIMEN DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Floyd D.Ruch dalam bukunya yang berjudul “Psychology and Life”, menegaskan bahwa dinamika kelompok (group dynamics) merupakan hasil interaksi yang dinamis diantara individu-individu dalam situasi sosial.

a.      Eksperimen Pertama
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dinamika kelompok, dibawah ini akan diuraikan hasil penelitian Sherip tentang interaksi dalam kelompok dan interaksi antar kelompok.

b.      Hipotesis Eksperimen
Eksperimen yang bertujuan menyelidiki 2 hipotesis berikut ini.
·        Apabila individu-individu manusia yang tidak berhubungan antara satu dengan yang lain dikumpulkan pada suatu tempat untuk berinteraksi sosial dalam kegiatan-kegiatan yang menuju ke tujuan yang sama, maka akan terbentuk kelompok sosial dengan struktur nya yang khas dimana akan terdapat kedudukan sosial yang hierarkis dan peran-peran sosial tiap-tiap anggota kelompok yang saling berinteraksi social.
·        Apabila dua kelompok telah membuat struktur in-groupnya masing-masing, maka akan terbentuk sikap yang negatif terhadap kelompok yang menjadi out-groupnya dan akan terbentuk streotip prasangka negatif terhadap out-groupnya.

Kedua hipotesis itu diselidiki kebenarannya oleh Sherif dengan mengadakan eksperimen berikut ini. Eksperimen dilakukan terhadap 24 orang anak lelaki yang berumur 12 tahun. Anak itu tidak saling mengenal dan perbedaan sosoal di antara mereka dihilangkan karena perbedaan itu dapat mempengaruhi jalannya eksperimen.


c.      Jalannya eksperimen
Eksperimen direncanakan dalam tiga fase:
Fase Pertama, direncanakan anak-anak mengadakan hubungan persahabatan berdasarkan kegiatan bersama seperti berenang, olah raga, dst. Diharapkan mereka memilih kawannya sendiri, dalam bermain mereka diberi kebebasan memilih kawan sepermainan sendiri. Ini berjalan selama tiga hari.
Fase Kedua, setelah tiga hari anak bergaul dilakukan pemisahan anak-anak dalam dua kelompok. Masing-masing terdiri atas 12 orang. Dari pemisahan itu diharapkan terbentuk struktur sosial sendiri pada masing-masing kelompok sehingga akan terbentuk in-group dan out-group.
Fase Ketiga, setelah terbentuk dua kelompok yang khas direncanakan menimbulkan pergeseran dan konflik sosial diantara keduanya. Diciptakan situasi-situasi yang memudahkan timbulnya saling menghambat antara satu dengan yang lain.

d.      Hasil Eksperimen
Hasil eksperimen diperoleh data-data penelitian sebagai berikut:
Hasil Fase Pertama, seperti yang diharapkan, anak-anak dalam fase pertama segera mengadakan interaksi dan mencari kawan sendiri. Terbentuklah secara bebas kelompok-kelompok persahabatan kecil sebagai hasil dari interaksi timbal-balik kearah tujuan bersama itu.
Hasil Fase Kedua, ternyata persahabatan-persahabatan yang terjadi pada akhir fase pertama (persahabatan berdasarkan interaksi dan pemilihan bebas), setelah dipisahkan dan dimasukkan kedalam kedua kelompok yang lebih besar itu, pada akhir fase kedua tidak ada lagi. Anak-anak sekarang cenderung dengan kawan-kawan kelompok A dan B.
Hasil Fase Ketiga, kesimpulan eksperimen sebagai berikut. Hasil eksperimen membuktikan kebenaran hipotesis kedua yang ingin diselidiki dan keseluruhan eksperimen ini berhasil membuktikan kedua hipotesis, yaitu bahwa dinamika kelompok akan menghasilkan struktur dan norma kelompok serta perasaan in-group yang khas, dan bahwa apabila terjadi pergeseran antara dua kelompok yang sudah mempunyai perasaan in-group masing-masing maka akan terbentuk sikap negative dan streotop terhadap out-groupnya masing-masing. Telah disimpulkan bahwa untuk mendamaikan dua kelompok yang berkonflik terdapat cara yang efektif:
ü  Berusaha agar beberapa anggota yang mewakili kedua kelompok itu disatukan dan dipertandingkan dengan suatu kelompok di luar kedua kelompok.
ü  Berusaha anggota kelompok itu sering bekerja sama.


      D.     PENGARUH SITUASI TAK TERDUGA         
Bagaimana seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian, yang tadinya dia tidak mau Membeli barang  tapi karena suatu hal jadi membeli barang tersebut. Contoh : Saat jalan ke pusat perbelanjaan, ayah melihat ingin membeli baju baru padahal awalnya mereka ke pusat perbelanjaan hanya untuk belanja bulanan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar