Tipe-Tipe Situasi Konsumen
Faktor
situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu.
Kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen (Asseal, 1998).
Sedangkan, menurut Belik (1975), mendefinisikan situasi sebagai semua faktor
yang utama terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang
(intra individu) dan stimulasi (alternatif pilihan) serta memiliki bukti dan
pengaruh sistematis pada perilaku saat itu. Penelitian telah menemukan bahwa faktor
situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan mengubah kemungkinan pemilihan
berbagai alternatif.
A. PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL
Manusia
dilahirkan kedunia seorang diri, tetapi kemudian hidup berkelompok dengan
keluarganya. Seperti kita ketahui, manusia pertama adam telah ditakdirkan untuk
hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama hawa. Mereka lalu
beranak pinak, terbentuklah keluarga, kelompok social, kelompok kekerabatan,
masyarakat, bangsa, dan Negara.
1)
Proses Pembentukan Kelompok Sosial
Didalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang
paling penting ialah reaksi yang timbul akibat hubungan-hubungan sosial
tersebut. Reaksi yang timbul itu, menyebabkan tindakan dan tanggapan seseorang
menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau seseorang mempunyai teman, dia
memerlukan reaksi, entah yang berwujud pujian atau celaan, yang mendorong
munculnya tindakan-tindakan selanjutnya. Sejak dilahirkan, manusia sudah
mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
·
Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain dalam
masyarakat
·
Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam
sekelilingnya.
2)
Persyaratan atau Faktor-Faktor Pembentukan Kelompok Sosial.
Terbentuknya kelompok sosial memerlukan persyaratan sebagai berikut:
·
Setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa dirinya
merupakan anggota atau bagian dari kelompok sosialnya.
·
Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan
anggota lainnya.
·
Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan
diantara mereka bertambah erat.
·
Kelompok itu berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola
perilaku yang khas.
·
Kelompok itu bersistem dan berproses terus menerus.
B. PERKEMBANGAN KELOMPOK SOSIAL
Kelompok
sosial bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok social selalu
mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok social sifatnya lebih
stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami perubahan
yang mencolok. Namun, adapula kelompok sosial yang mengalami perubahan yang
cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar.
1) Perubahan Kelompok Sosial
Kelompok sosial umumnya mengalami perubahan akibat proses
revolusi karena pengaruh dari luar. Keadaan tidak stabil pada kelompok sosial
dapat terjadi sebagai akibat konflik antar kelompok karena kurangnya
keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam kelompok tersebut. Ada golongan
dalam kelompok sosial yang ingin merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan
lain, atau ada kepentingan tidak seimbang, sehingga timbul ketidakadilan atau
perbedaan paham atau pandangan tentang cara mencapai tujuan kelompok.
Kesemuanya itu mengakibatkan terjadinya perpecahan di dalam kelompok sosial,
sehingga timbul perubahan struktur kelompok sosial. Timbulnya struktur kelompok
sosial yang baru, pada akhirnya bertujuan mencapai keadaan yang seimbang dan
stabil.
Perubahan struktur kelompok sosial dapat pula terjadi karena
sebab-sebab dari luar. Ancaman dari luar misalnya, seringkali menjadi faktor
yang mendorong terjadinya perubahan struktur kelompok sosial. Situasi yang
membahayakan yang berasal dari luar akan memperkuat rasa persatuan dan
mengurangi keinginan-keinginan untuk mementingkan diri sendiri dari
anggota-anggota kelompok sosial tersebut. Sebab lain, yaitu pergantian
pimpinan, staf, atau anggota kelompok sosial yang tidak sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Menurut Max Weber, dalam masyarakat multikultural ada
beberapa macam kelompok sosial. Kelompok sosial yang satu berbeda dari kelompok
sosial yang lain, walaupun mereka termasuk dalam suatu masyarakat yang sama.
Max weber mengemukakan bahwa kelompok masyarakat majemuk berkaitan dengan
tatanan yang mengikat dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, dan
kebudayaan.
Masyarakat Indonesia tergolong masyarakat multikultural,
yaitu masyarakat yang beragam etnis/suku bangsa, ras, agama, bahasa, adat istiadat,
profesi, golongan politik dsb. Keberagaman suku bangsa dan kebudayaan tersebut,
tentu saja berpengaruh terhadap sistem dan struktur sosial. Karena itu, dalam
masyarakat Indonesia terdapat bermacam-macam kelompok sosial berdasarkan kriteria
tertentu, seperti kelompok sosial yang terbentuk karena kepentingan etnis atau
suku bangsa, kelompok sosial kerena kepentingan agama, kepentingan profesi dsb.
Perkembangan kelompok sosial itu terjadi melalui 2 proses, yaitu proses yang
bersifat alami dan disengaja.
2)
Ciri-Ciri Kelompok Sosial
Menurut Sherif, kelompok social memiliki ciri-ciri berikut
ini :
§
Terdapat dorongan atau motif yang sama pada setiap anggota
kelompok yang menyebabkan terjadinya interaksi ke arah tujuan yang sama.
§
Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan dari
individu-individu serta reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berbeda-beda
antara individu yang terlibat didalamnya.
§
Pembentukan penegasan struktur kelompok yang jelas dan
terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarki yang lambat laun berkembang
dengan sendirinya dalam pencapaian tujuannya.
§
Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma sebagai
pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan
anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.
C. EKSPERIMEN DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Floyd D.Ruch
dalam bukunya yang berjudul “Psychology and Life”, menegaskan bahwa dinamika
kelompok (group dynamics) merupakan
hasil interaksi yang dinamis diantara individu-individu dalam situasi sosial.
a.
Eksperimen Pertama
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dinamika
kelompok, dibawah ini akan diuraikan hasil penelitian Sherip tentang interaksi
dalam kelompok dan interaksi antar kelompok.
b.
Hipotesis Eksperimen
Eksperimen yang bertujuan menyelidiki 2 hipotesis berikut
ini.
·
Apabila individu-individu manusia yang tidak berhubungan
antara satu dengan yang lain dikumpulkan pada suatu tempat untuk berinteraksi
sosial dalam kegiatan-kegiatan yang menuju ke tujuan yang sama, maka akan
terbentuk kelompok sosial dengan struktur nya yang khas dimana akan terdapat
kedudukan sosial yang hierarkis dan peran-peran sosial tiap-tiap anggota kelompok
yang saling berinteraksi social.
·
Apabila dua kelompok telah membuat struktur in-groupnya masing-masing, maka akan
terbentuk sikap yang negatif terhadap kelompok yang menjadi out-groupnya dan akan terbentuk streotip
prasangka negatif terhadap out-groupnya.
Kedua hipotesis itu diselidiki kebenarannya oleh Sherif
dengan mengadakan eksperimen berikut ini. Eksperimen dilakukan terhadap 24
orang anak lelaki yang berumur 12 tahun. Anak itu tidak saling mengenal dan
perbedaan sosoal di antara mereka dihilangkan karena perbedaan itu dapat
mempengaruhi jalannya eksperimen.
c.
Jalannya eksperimen
Eksperimen direncanakan dalam tiga fase:
Eksperimen direncanakan dalam tiga fase:
Fase Pertama, direncanakan anak-anak mengadakan hubungan persahabatan
berdasarkan kegiatan bersama seperti berenang, olah raga, dst. Diharapkan
mereka memilih kawannya sendiri, dalam bermain mereka diberi kebebasan memilih
kawan sepermainan sendiri. Ini berjalan selama tiga hari.
Fase Kedua, setelah tiga hari anak bergaul dilakukan pemisahan anak-anak
dalam dua kelompok. Masing-masing terdiri atas 12 orang. Dari pemisahan itu
diharapkan terbentuk struktur sosial sendiri pada masing-masing kelompok
sehingga akan terbentuk in-group dan out-group.
Fase Ketiga, setelah terbentuk dua kelompok yang khas direncanakan menimbulkan
pergeseran dan konflik sosial diantara keduanya. Diciptakan situasi-situasi
yang memudahkan timbulnya saling menghambat antara satu dengan yang lain.
d.
Hasil Eksperimen
Hasil eksperimen diperoleh data-data penelitian sebagai berikut:
Hasil eksperimen diperoleh data-data penelitian sebagai berikut:
Hasil Fase Pertama, seperti yang diharapkan, anak-anak
dalam fase pertama segera mengadakan interaksi dan mencari kawan sendiri.
Terbentuklah secara bebas kelompok-kelompok persahabatan kecil sebagai hasil
dari interaksi timbal-balik kearah tujuan bersama itu.
Hasil Fase Kedua, ternyata persahabatan-persahabatan yang terjadi pada akhir
fase pertama (persahabatan berdasarkan interaksi dan pemilihan bebas), setelah
dipisahkan dan dimasukkan kedalam kedua kelompok yang lebih besar itu, pada
akhir fase kedua tidak ada lagi. Anak-anak sekarang cenderung dengan
kawan-kawan kelompok A dan B.
Hasil Fase Ketiga, kesimpulan eksperimen sebagai berikut. Hasil eksperimen
membuktikan kebenaran hipotesis kedua yang ingin diselidiki dan keseluruhan
eksperimen ini berhasil membuktikan kedua hipotesis, yaitu bahwa dinamika
kelompok akan menghasilkan struktur dan norma kelompok serta perasaan in-group yang khas, dan bahwa apabila
terjadi pergeseran antara dua kelompok yang sudah mempunyai perasaan in-group masing-masing maka akan
terbentuk sikap negative dan streotop terhadap out-groupnya masing-masing. Telah disimpulkan bahwa untuk mendamaikan
dua kelompok yang berkonflik terdapat cara yang efektif:
ü
Berusaha agar beberapa anggota yang mewakili kedua kelompok
itu disatukan dan dipertandingkan dengan suatu kelompok di luar kedua kelompok.
ü
Berusaha anggota kelompok itu sering bekerja sama.
D. PENGARUH SITUASI TAK TERDUGA
Bagaimana
seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang
dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian, yang
tadinya dia tidak mau Membeli barang tapi karena suatu hal jadi membeli
barang tersebut. Contoh : Saat jalan ke pusat perbelanjaan, ayah melihat ingin
membeli baju baru padahal awalnya mereka ke pusat perbelanjaan hanya untuk
belanja bulanan.
#Referensi
:http://dwichuswanda13.wordpress.com/2013/11/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar