Minggu, 23 Maret 2014

Berpikir dan Bernalar

Dalam kehidupan sehari - hari, setiap manusia tak lepas dari kegiatan berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada saat berpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengan sendirinya dan tanpa kesadaran, misalnya pada saat kita melamun. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.

Semula kita berpendapat bahwa berpikir sama artinya dengan bernalar. Akan tetapi, menurut Sudarminta, sesungguhnya berpikir memiliki pengertian yang lebih luas dari bernalar (Basis 05 – 06, 2000 : 54). Menurutnya, bernalar adalah kegiatan pikiran untuk menarik kesimpulan dari premis-premis yang sebelumnya sudah diketahui. Bernalar bisa mengambil bentuk induktif, deduktif, ataupun abduktif.

Meskipun demikian, penalaran yang tepat merupakan unsur yang amat penting dalam kegiatan berpikir dan dapat menunjang kegiatan berpikir yang benar. Karena mekanisme dasar dari sel otak manusia merefleksikan proses pencocokan pola atau pengenalan pola. Saat seseorang melakukan refleksi, situasi baru dan pengalaman baru dinilai berdasarkan apa yang diingat. Untuk membuat penilaian ini, pikiran mempertahankan pengalaman saat ini dan mengurutkan pengalaman masa lalu yang relevan. Hal tersebut dilakukan dengan mempertahankan agar pengalaman kini dan masa lalu sebagai pengalaman yang terpisah. Pikiran dapat mencampur, mencocokkan, menggabungkan, menukar, dan mengurutkan konsep-konsep, persepsi, dan pengalaman. Proses ini disebut penalaran. Logika adalah ilmu tentang penalaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar